Sekjen Kemenag RI Bahrul Hayat, saat memberikan pengarahan kepada para pejabat Eselon II, III dan IV Ditjen Bimas Kristen dan Ditjen Bimas Katolik pada acara Rapat Pembinaan Kepegawaian di Ruang Pertemuan Lt. 3, Jl. MH. Thamrin No.6, Jakarta Pusat.
Jakarta, DBK-Bertempat di Ruang Pertemuan Lt. 3, Jl. MH. Thamrin No. 6, Jakarta Pusat, Ditjen Bimas Kristen dan Ditjen Bimas Katolik yang dihadiri para pejabat Eselon II, III dan IV serta Pgs. Dirjen Bimas Kristen dan Pgs. Dirjen Bimas Katolik menyelenggarakan rapat tentang Pembinaan Kepegawaian dengan narasumber Sekjen Kementerian Agama RI Bahrul Hayat.
Ada 6 point yang disampaikan oleh Sekjen, sebagai berikut Masing-masing Ditjen harus segera membuat dan menyampaikan laporan keuangan tahun 2013; Masing-masing Ditjen harus segera menyelesaikan laporan pertanggungjawaban dari setiap kegiatan tahun 2013; Menyusun rencana kegiatan selama setahun kedepan, dengan membuat matrik dari masing-masing kegiatan dimaksud; Para pejabat Eselon II seharusnya mengadakan rapat sebulan sekali guna mengevaluasi kegiatan dan program kerja sebelum dan sesudah kegiatan; Masing-masing Ditjen diharuskan membuat Rencana Strategis (Renstra) untuk tahun 2015-2019; Masing-masing Ditjen diharapkan membuat buku laporan Capaian Kinerja tahun 2010-2014.
Selain enam point yang disampaikan, Sekjen juga mengharapkan kerjasama dan koordinasi dari setiap Tusi dalam rangka pencapaian kinerja yang lebih baik di tahun mendatang.
|
Jakarta, 17/03/2014 MoF (Fiscal) News – Menteri Keuangan (Menkeu) M. Chatib Basri menyatakan bahwa penguatan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada penutupan Jumat sore (14/3) lebih disebabkan karena pengaruh sentimen dalam negeri.
Sentimen dalam negeri tersebut terlihat karena tidak adanya modal asing yang masuk ke pasar keuangan Indonesia pada saat penguatan terjadi. "Jadi, yang saya bisa lihat hari Jumat (14/3) kemarin itu fenomenanya lokal, didorong investor lokal, karena saham regionalnya tidak naik tapi mixed," ungkap Menkeu.
Ia menambahkan, dampak faktor eksternal pada Jumat lalu hampir tidak ada. Hal ini terlihat dari nilai tukar rupiah hanya menguat sedikit, begitu juga dengan yield bond. Sebagaimana diketahui, sentimen positif eksternal biasanya tercermin dari penguatan nilai tukar rupiah dan penurunan yield obligasi. “Hari Jumat kemarin praktis rupiah hanya menguat 30 poin menjadi Rp 11.356/USD. Penguatan rupiah praktis sudah terjadi sejak bulan lalu. Jika kita lihat bond yield, Jumat kemarin juga relatif stabil. Artinya, Jumat kemarin praktis sentimen positif bukan disebabkan oleh arus modal asing yang masuk ke SUN (Surat Utang Negara) atau ke rupiah. Jadi fenomena Jumat kemarin bukan fenomena eksternal," jelas Menkeu.
Seperti diketahui, pada Jumat (14/3) sore, IHSG di Bursa Efek Indonesia (BEI) ditutup setelah melanjutkan penguatan hingga 3,84 persen. IHSG BEI ditutup menguat sebesar 152,48 poin atau 3,13 persen ke posisi 4.878,64, sedangkan indeks 45 saham unggulan (LQ45) naik 36,26 poin (4,37 persen) ke level 830,67.(nic)








