Bencana banjir dan tanah longsor yang terjadi, Rabu (15/1) di Kota Manado, Kab.Minahasa, Kabu. Minahasa Utara, Kab. Minahasa Selatan, dan Kota Tomohon disebabkan oleh curah hujan yang ekstrim dan air pasang laut. BNPB menginformasikan bahwa hal tersebut terjadi akibat kombinasi antara faktor alam dan antropogenik. Demikian disampaikan Kepala Pusat Komunikasi Publik, Danis H. Sumadilaga, Jumat (17/1) di Jakarta.
Hujan deras dipicu sistem tekanan rendah di perairan selatan Filipina. Hal tersebut menyebabkan pembentukan awan intensif. Selain itu, adanya konvergensi dampak dari tekanan rendah di utara Australia, awan-awan besar masuk ke wilayah Sulut. Akibatnya, empat sungai besar (sungai Tondano, sungai Sawangan, sungai Sario dan sungai Tikala) di Kota Manado meluap dan menghanyutkan puluhan rumah serta kendaraan.
Bencana kali ini lebih besar daripada sebelumnya yang pernah terjadi pada tahun 2000 dan Februari 2013, dengan ketinggian banjir antara 3 s.d.6 meter. Namun pada saat laporan ini dibuat, banjir sudah mulai surut dan sementara sedang dilaksanakan pembersiahan lumpur oleh masyarakat dan pemda.
Dampak bencana sangat dirasakan masyarakat, secara material maupun korban jiwa. Serta, menyebabkan lumpuhnya aktifitas perkantoran dan warga terutama di Kota Manado dan sekitarnya. Banyak kantor, rumah dan toko yang teredam air. Dampak lainnya ialah terputusnya beberapa akses jalan akibat banjir dan tanah longsor yang menutupi badan jalan serta badan jalan yang longsor.
Bencana banjir dan tanah longsor juga merusak sarana umum seperti Gereja, sekolah, Masjid perkantoran. Kondisi tersebut menyebabkan listrik padam dan masyarakat sulit mendapatkan air bersih.
Adapun penanganan darurat yang dilakukan adalah penanganan jembatan yang patah, jatuh atau ambruk. Penanganan jalan yang longsor (badan jalan longsor atau badan jalan tertutup longsoran) serta pendanaan Penanganan Tanggap Darurat. Penanganan infrastruktur dan sarana umum lainnya.
Direktur Bina Pelaksanaan Wilayah III, Ditjen Bina Marga Ober Gultom mengatakan , Penanganan longsor pada ruas jalan Manado-Tomohon dilakukan fungsional dengan menggerakan alat berat dari 2 arah yaitu arah Tomohon ke Manado dan dari Manado ke Tomohon. Lalu lintas diarahkan melalui jalan alternatif untuk lalu lintas Manado-Tomohon yaitu melalui Manado-Tanahwangko-Tomohon dan Manado-Pineleng-Warembungan-Tinoor- Tomohon.
Pembersihan bangunan-bangunan yang tenggelam oleh warga dan satgas bencana alam; Penggunaan air mineral untuk memenuhi kebutuhan air minum; Pembersihan jalan dan jembatan dengan menggunakan alat berat sedangkan untuk daerah fasilitas umum menggunakan peralatan pemerintah daerah; Listrik sudah normal; Bantuan dari Pemkot untuk korban pengusi sudah diberikan.
Ke depan, akan dilakukan penanganan jangka panjang yakni koordinasi dengan Pemda mengenai komitmen pelaksanaan tata ruang dan penertiban perizinan pembangunan bangunan pada lokasi-lokasi tertentu. Penanganan jalan dan jembatan melalui pemrograman penanganan tuntas pada ruas Jalan Manado – Tomohon dab penggantian Jembatan Sario. Kondisi Jembatan tersebut saat ini tertutup sampah.
Penanganan lain yaitu perbaikan infrastruktur dan sarana umum lainnya yang juga ikut ditangani oleh instansi terkait. Pemprograman penanganan banjir harus segera diusulkan dan menjadi prioritas utama dari pemerintah daerah dan pusat. Penyedian fasilitas-fasilitas penampung air seperti embung-embung, saluran pembuangan harus segera direalisasikan. Intinya revitalisasi saluran harus segera dilaksanakan.








