Bogor (Pinmas) —- Zaman terus berkembang. Beragam rahasia ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek) terus terkuak dan menjadi temuan. Capaian-capaian iptek ini ibarat tangga-tangga (
ma’arij) yang disusun sedikit demi sedikit dan dari generasi ke generasi hingga sekarang ini. Tidak hanya memahami fenomena alam, capaian iotek ini juga semakin membuat manusia mengenal Sang Pencipta.
“Capain teknologi bak ma’arij dan itu harus dimaknai bukan hanya untuk mengenal penciptaan itu sendiri, tetapi lebih untuk mengenal sang penciptanya,” demikian pensan yang disampaikan Prof Dr Ir H Hery Harjono dalam ulasan uraian hikmahnya pada perayaan Isra’ Mikraj Kenegaraan di Istana Bogor, Rabu (28/5) malam.
Menurutnya, Isra Mikraj adalah peristiwa besar yang terus menyisakan pertanyaan yang mendorong ke arah pemahaman ciptaan Allah
SWT yang lebih baik dari waktu ke waktu, dan menuntun ke arah penghambaan total kehadirat-Nya. “Perkembangan Isra Mikraj seiring dengan perkembangan iptek yang ada,” tuturnya.
Peneliti senior Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (
LIPI) ini mengatakan bahwa pemahaman kita terhadap Isra Mikraj terus berkembang seiring dengan berkembang masyarakatnya, terutama berkaitan dengan perkembangan sosiologis dan pengetahuan yang ditandai oleh temuan-temuan baru pada bidang sains dan teknologi.
Berkilas sejarah, Harjono menjelaskan bahwa pada abad pertengahan, Al Farghani, seorang astronom muslim kelahiran Baghdad mencoba menghitung jarak bumi ke Arsy. Saat itu, Al Farghani memperoleh angka 120 juta km. Dalam padangan ilmu sekarang, jarak tersebut ternyata masih menempatkan letak Arsy dalam lingkup tata surya.
“Dengan kemajuan teknologi observasi yang terus berkembang, kini kita dapat menerawang sangat jauh sesuatu yang tak terbayangkan ketika peristiwa Isra Mikraj terjadi,” katanya.
Dalam uraiannya, Hery Harjono mengutip berbagai perspektif untuk menjelaskan peristiwa Isra Mikraj. Prof Djamaluddin misalnya, berpendapat bahwa perjalanan Isra Miraj adalah perjalanan dimensi, yang di dalamnya terdapat fenomena fisik dalam kerangka dimensi ruang-waktu dan non-fisik di luar dimensi yang kita kenal (garis bidang ruang dan waktu).
Dengan demikian Allah
SWT telah memperjalankan Rasulullah
SAW melalui perjalanan antar dimensi dari dimensi ruang-waktu lebih rendah ke dimensi yang lebih tinggi. Perjalanan antar dimensi ini memungkinkan Rasulullah
SAW melihat kafilah-kafilah yang sedang dalam perjalanannya, dan dapat menembus ke masa lalu dengan menceritakan perjumpaannya dengan para Nabi. Ini berarti Rasulullah Saw berjalan dengan jasadnya.
Pendapat lain disampaikan Dr Agus Purwanto yang dengan menggunakan teori relativitasnya Einstein, mengatakan bahwa hanya ruh Rasulullah Saw yang melesat ke langit bersama Jibril. Apabila perjalanan Rasulullah beserta jasadnya dengan kecepatan cahaya, maka tubuhnya akan meledak.
Senada dengan itu, Ir Agus Mustofa mengemukakan teori Annihilisasi, bahwa tubuh Rasulullah diubah menjadi substansi cahaya sehingga dapat bergerak dengan kecepatan cahaya.
Sementara Quraisy Shihab menjelaskan bahwa penggunaan huruf ba dalam ayat “
bi’abdihi” mengisyaratkan perjalanan Isra’ tersebut di bawah bimbingan dan taufik Allah
SWT, bahkan Dia menyertainya terus menerus. Menurut Quraisy, peristiwa Isra Mikraj harus dikaitkan dengan kehendak dan kekuasaan-Nya. “Sungguh keliru jika anda mengukur dengan ukuran kemampuan makhluk,” jelasnya.
Hery Harjono lalu mengutip QS Ar-Rahman ayat 33, “Wahai golongan jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi makan tembuslah. Kau tidak akan mampu menembusnya kecuali dengan kekuatan (dari Allah)”.
Ditambahkan Hery, setahun setelah peristiwa Isra Mikraj, Rasulullah
SAW bersama kaum muslimin hijrah ke Madinah dan itu menjadi penanda era baru,
Rise of Islam. Menurutnya, ini bisa diartikan bahwa ‘ruh’ perubahan itu adalah peristiwa Isra Miraj.
Peristiwa besar tersebut, lanjut Hery, selain merupakan ujian keimanan bagi kaum muslimin sebelum mengikuti hijrah Rasulullah
SAW untuk menjemput era baru Islam, juga mendorong pemikiran terkait dengan jagad raya. Tidak dapat dipungkiri bahwa kewajiban salat, arah kiblat, penentuan awal Ramadlan yang terkait dengan ibadah puasa, juga haji, semua itu mendorong kemajuan di bidang astronomi.
Sejarah pun mencatat bahwa Islam mulai menetapkan kalender pada masa khalifah Umar bin Khattab pada tahun 637M, 5 tahun setelah Rasulullah
SAW wafat. (Arief/mkd/mkd)
Sumber: www.kemenag.go.id