JAKARTA - Indonesia berpeluang menarik investasi Toyota Motor Corp yang saat ini meninjau ulang rencana investasinya di Thailand. Rencana tersebut disampaikan seiring dengan pertumbuhan industri pendukung dan ketersediaan sumber daya manusia tenaga terampil serta akses pasar yang cukup besar di Indonesia dibandingkan Thailand.
"Peluang Indonesia untuk menjadi basis produksi cukup besar karena industri komponen otomotif di dalam negeri saat ini telah mencapai 1.500 pabrik dan memiliki sumber daya manusia di bidang engineering yang cukup terampil," kata Budi Dharmadi, Direktur Jenderal Industri Unggulan Berbasis Teknologi Tinggi, Kementerian Perindustrian kepada IFT, Selasa.
Peluang Indonesia untuk menarik investasi Toyota menguat setelah prinsipal asal Jepang itu meninjau ulang investasi senilai 20 miliar baht atau sekitar US$ 609 juta di Thailand atau bahkan memangkas produksi kendaraan di negara tersebut seiring dengan kisruh politik sejak dua bulan lalu.
Toyota merupakan manufaktur kendaraan terbesar di Thailand, dengan kapasitas produksi 800 ribu unit mobil per tahun. Perseroan juga diketahui berencana meningkatkan kapasitasnya hingga 200 ribu unit mobil dalam tiga atau empat tahun ke depan. Namun, gejolak politik yang dipicu gelombang demonstrasi antipemerintah dalam dua bulan terakhir menyebabkan rencana Toyota tersebut menjadi tidak pasti.
"Investasi baru kami di Thailand mungkin tidak akan pernah terjadi jika krisis politik saat ini terus berlangsung," ujar Kyoichi Tanada, Presiden Toyota di Thailand saat konferensi pers di Bangkok.
Menurut Tanada, ketidakstabilan politik di suatu negara bisa menyebabkan investor asing mencari peluang investasi di negara lain. Untuk investor asing baru, situasi politik ini bisa memaksa mereka mencari peluang di negara lain. "Bagi yang sudah berinvestasi seperti Toyota, kami tidak akan meninggalkan (Thailand), namun apakah akan menambah investasi atau tidak, kami tak begitu yakin," ujar Tanada seperti dikutip Reuters.
Thailand merupakan pasar kendaraan roda empat terbesar di Asia Tenggara dan menjadi basis produksi regional sejumlah produsen otomotif besar seperti Honda Motor Co dan Ford Motor Co.
Made Dana Tangkas, Direktur PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia, mengatakan belum mengetahui rencana Toyota Motor Corp mengkaji ulang investasinya di Thailand, maupun memindahkan investasinya ke negara lain seperti Indonesia. "Kami belum dengar informasinya lebih detail mengenai rencana itu," kata Made kepada IFT. Menurut dia, kalaupun Toyota berencana memindahkan investasinya di suatu negara, perseroan sebelumnya pasti telah memiliki rencana jangka panjang dan menengah.
Industri Komponen
Peluang Indonesia menarik investasi tambahan dari Toyota cukup terbuka, apalagi melihat kesiapan industri komponen. Budi Dharmadi menjelaskan hingga akhir 2013 sudah ada sekitar 1.500 industri komponen di Indonesia. Setiap tahun terdapat sekitar 100 industri komponen baru yang masuk seiring dengan realisasi investasi sektor otomotif. Sedangkan tahun ini, terdapat tambahan sekitar 20-30 industri komponen baru dengan total investasi senilai US$ 1,5 miliar.
"Tahun ini ada tambahan 20-30 industri komponen dengan rata-rata investasi senilai US$ 50 juta per industri," kata Budi.
Realisasi investasi yang masuk ke industri otomotif nasional sepanjang 2012-2013 diperkirakan lebih dari Rp 10 triliun. MS Hidayat, Menteri Perindustrian, mengatakan komitmen investasi tersebut antara lain berasal dari produsen kendaraan maupun komponen kendaraan sebagai mata rantai pemasok industri otomotif.
Sementara berdasarkan data Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Jepang menempati urutan pertama sebagai negara dengan nilai investasi terbesar sepanjang 2013 sebesar US$ 4,7 miliar. Mahendra Siregar, Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), mengatakan mayoritas investasi yang dialokasikan Jepang sepanjang tahun lalu mayoritas berasal dari aktivitas perluasan investasi di sektor otomotif.
Dia memperkirakan investasi Jepang di sektor otomotif berpotensi terus berkembang di Indonesia pada tahun ini, sejalan dengan pekembangan industri otomotif serta tingginya kebutuhan kendaraan untuk mobilitas penduduk. "Jepang juga kerap memuji Indonesia karena pertumbuhan kelas menengah, sehingga menjadikan mereka terus berminat investasi," kata dia.
Toyota Motor Corporation pada pertengahan tahun lalu merealisasikan investasi pembangunan pabrik perakitan kendaraan (complete knock-down/CKD) di Karawang, Jawa Barat. Pabrik kedua yang akan beroperasi di bawah PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) tersebut menyerap investasi sebesar Rp 3,3 triliun, berkontribusi 25% dari total komitmen investasi Toyota Motor Corp di Indonesia.
Toyota Group menyatakan komitmen investasi di Indonesia Rp 13 triliun hingga 2017. Nilai tersebut merupakan bagian dari rencana investasi jangka panjang perseroan yang mencapai Rp 26 triliun di Indonesia.
Takahiro Iwase, Senior Managing Officer Toyota Motor Corporation, mengatakan pasar otomotif Indonesia masih dipandang menarik oleh prinsipal. Dengan pencapaian penjualan mobil nasional 2012 sebesar 1,1 juta unit, penjualan Toyota di Indonesia tumbuh konsisten hingga mencapai 400 ribu unit.
Sementara dari segi produksi, dia menyatakan Indonesia memiliki arti penting seiring dengan meningkatnya ekspor multi purpose vehicle (MPV) Kijang Innova dan sport utility vehicle (SUV) Toyota Fortuner sebagai hasil produksi pabrik Karawang I hingga 60 ribu unit ke berbagai negara di ASEAN dan Timur tengah. Investasi untuk peningkatan kapasitas produksi diperlukan guna mengantisipasi pertumbuhan Toyota di masa mendatang.
Sumber : Kemenperin/Indonesia Finance Today