Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) meluncurkan Program
Indonesia Terang (PIT) dalam rangka memenuhi target peningkatan rasio
elektrifikasi nasional dari 85 persen pada tahun 2015 menjadi 97 persen
di tahun 2019. PIT juga menjadi bagian dari target pemerintah
menyediakan akses penerangan bagi masyarakat Indonesia secara merata
melalui pembangunan pembangkit 35.000 MW.
Hingga saat ini, masih
ada 12.659 desa tertinggal yang belum memperoleh akses listrik dari
jaringan Perusahaan Listrik Negara (PLN), bahkan 2.519 desa diantaranya
belum terlistriki sama sekali. Desa-desa ini sebagian besar tersebar di
Provinsi Papua dan di kawasan Indonesia Timur lainnya. Di Provinsi Papua
dan Papua Barat masih ada 18 kabupaten yang sama sekali belum
terjangkau oleh listrik PLN, yaitu di Pegunungan Bintang, Tolikara,
Yahukimo, Puncak Jaya, Lanny Jaya, Mamberamo Raya, Mamberamo Tengah,
Puncak, Nduga, Intan Jaya, Yalimo, Supiori, Paniai, Dogiyai, Deiyai,
Teluk Wondama, Tambraw, dan Maybrat. PIT akan segera dilaksanakan tahun
ini, dimulai dari kawasan Indonesia Timur, dengan berupaya melistriki
10.300 desa hingga akhir 2019.
“Melistriki desa-desa tertinggal
yang letaknya jauh dan tersebar di pelosok-pelosok negeri membutuhkan
pendekatan khusus. Desa-desa ini umumnya sulit dijangkau moda
transportasi biasa karena menantang dari sisi geografis dan prasarana
transportasinya belum memadai. Populasi penduduk rata-rata sedikit
dengan tingkat kepadatan yang rendah. Implikasinya, membangun jaringan
listrik PLN menjadi sangat mahal dan membuat hitung-hitungan ekonomi PLN
menjadi rugi. Pemerintah perlu memberikan perhatian lebih khusus kepada
masyarakat di desa-desa tertinggal ini supaya mereka dapat segera
terlayani listrik. Tanpa kebijakan dan aksi yang berpihak, desa-desa
tersebut mustahil bisa mengakses listrik sesuai target yang telah
dicanangkan,” jelas Menteri ESDM, Sudirman Said.
Strategi
pertama dalam implementasi PIT adalah memaksimalkan pemanfaatan energi
setempat yang erat kaitannya dengan energi terbarukan, seperti energi
surya, air, angin, biomassa, hingga arus laut. Dengan memanfaatkan
energi setempat, pembangunan pembangkit dan transmisi listrik dapat
dibangun secara lokal (off-grid), berbasis desa atau pulau, dan tak
harus menunggu datangnya jaringan listrik dari pusat.
Indonesia
memiliki kelimpahan potensi energi terbarukan. Diperkirakan lebih dari
300.000 MW, namun pemanfaatannya masih sangat minim, atau kurang dari 3
persen. Kendala utama pemanfaatan energi terbarukan adalah akses kepada
teknologi energi
terbarukan yang masih mahal. Kendatipun sumber
energinya dapat diperoleh tanpa bayar, tak ayal harga satuan listriknya
tetap mahal.
Pusat Keunggulan Energi Bersih (Clean Energy Center
of Excellence/CoE) yang sedang dikembangkan di Bali diharapkan dapat
menyiapkan teknologi energi terbarukan yang terjangkau, dimanfaatkan,
dan diakses masyarakat di pelbagai pelosok. Pusat ini juga akan melatih
dan membina orang muda Indonesia untuk menjadi tenaga ahli yang terampil
dalam mengimplementasikan PIT yang berbasis energi terbarukan. Bekerja
sama dengan berbagai lembaga pendidikan di banyak daerah, Pusat
Keunggulan Energi Bersih menyiapkan sumber daya lokal siap pakai.
Tahapan
yang akan dilakukan oleh Kementerian ESDM dalam melaksanakan PIT
adalah: (i) Konsolidasi data dan sinkronisasi perencanaan di tingkat
pusat direncanakan akan tuntas pada bulan Maret 2016; (ii) Pelatihan
perencanaan kelistrikan desa akan dilaksanakan selama periode Maret
sampai Juni 2016; (iii) Perencanaan kelistrikan desa dilakukan di
tingkat provinsi dan kabupaten sepanjang tahun 2016; (iv) Implementasi
PIT dimulai tahun ini dengan sejumlah lokasi percontohan dan dilanjutkan
secara menyeluruh hingga tahun 2019.
Keterlibatan berbagai
pemangku kepentingan juga penting, terutama mitra pemerintah dalam
mengembangkan listrik pedesaan. Kebijakan pengembangan listrik lokal
(off-grid) menawarkan kesempatan luas bagi swasta untuk berpartisipasi
dalam PIT, bekerja sama dengan pemerintah pusat maupun daerah, dengan
badan usaha milik negara, badan usaha milik daerah, hingga badan usaha
milik desa.
PIT akan dimulai di enam provinsi paling timur
Indonesia, yaitu Papua, Papua Barat, Maluku, Maluku Utara, Nusa Tenggara
Timur, dan Nusa Tenggara Barat. Sebanyak 65 persen desa tanpa listrik
dan/atau tanpa jaringan PLN, semisal swasta, swadaya, atau perseorangan
berada di enam provinsi tersebut. Ketertinggalan dan kesulitan akses lah
yang membuat keenamnya menjadi provinsi yang penting digarap pertama
kali.
Dimulai dari kawasan Timur, PIT akan terus bergerak secara
cepat ke kawasan Indonesia Barat. Desa-desa tertinggal lainnya di
berbagai provinsi di tanah air akan digarap dengan model pendekatan yang
serupa dengan lokasi-lokasi percontohan, tentunya dengan penyesuaian
berdasarkan pembelajaran dari pelaksanaan sebelumnya. Secara total, PIT
berpotensi mengembangkan 500 MW hingga 1000 MW (1 GW).
sumber: www.esdm.go.id
Minggu, 28 Februari 2016
Langganan:
Posting Komentar (Atom)






0 komentar:
Posting Komentar