Presiden Joko Widodo menuntut adanya perubahan total pada Rencana Kerja Pemerintah (RKP)
tahun 2017. Untuk itu, Presiden meminta para menteri untuk bisa
mengendalikan arah dan kebijakan anggaran di setiap kementerian yang
dipimpinnya.
“Menteri betul-betul mengendalikan anggarannya dan
tidak diberikan ke bawahannya,” kata Presiden dalam sidang paripurna
kabinet di Istana Negara Jakarta, Rabu (10/02).
Menurut Presiden,
jajaran di bawah menteri, mulai dari direktur jenderal, direktur,
hingga di bawahnya, hanya memberikan perincian. Arahan rencana program
dan kebijakan anggaran harus dipegang menteri.
Selain itu,
Presiden meminta agar penggunaan anggaran tidak berprinsip lagi pada
“money follow function”, karena selama ini seringkali penggunaan
anggaran dibagikan sesuai dengan struktur organisasi kementerian. Di
Kementerian PU dan Perumahan Rakyat misalnya, memperoleh alokasi
anggaran sebesar Rp 100 Triliun. Anggaran ini lalu diberikan kepada 11
direktorat jenderal yang ada di bawahnya. Di tingkat Ditjen, anggaran
ini kemudian dibagi lagi kepada para direktur, kasubdit, lalu akhirnya
ke kepala seksi.
“Ini yang menyebabkan anggaran kita hilang tak berbekas, karena duitnya mengikuti organisasi yang ada,” ucap Presiden.
Presiden
menyadari bahwa organisasi diperlukan. Namun demikian, Presiden
mengingatkan pentingnya program prioritas. Memang akan muncul
pertanyaan, khususnya pada bagian yang belum mendapat anggaran, “lalu
saya kerja apa? Masih banyak yang dapat dikerjakan,” kata Presiden.
Hal
seperti itu seharusnya terjadi di semua kementerian, sehingga tidak
perlu lagi setiap unit dalam struktur organisasi kementerian selalu
memiliki anggaran. “Itu namanya bagi rata, jadi tidak jelas fokus dan
prioritas ke mana,” kata Presiden.
“Jadi yang jelas, harusnya
money follow program. Program kita apa, semua fokus ke situ. Kalau tidak
begini, tidak akan terasa oleh masyarakat. Ini hal yang perlu
dipersiapkan secara matang,” ucap Presiden.
Presiden juga meminta
untuk memangkas program yang nomenklaturnya tidak jelas dan tidak ada
manfaatnya bagi rakyat. “Saya ingatkan lagi, kata-kata bersayap dengan
menggunakan penguatan, pengembangan, pemberdayaan, lupakan itu,” ucap
Presiden.
Presiden meminta agar penggunaan program menyebut
langsung keperluannya. Di Kementerian Kelautan dan Perikanan misalnya,
membeli jaring, membeli benih atau membeli ikan. “Sehingga ngontrolnya
mudah, mengawasinya menjadi mudah,” kata Presiden.
sumber: www.kemenag.go.id
Rabu, 10 Februari 2016
Langganan:
Posting Komentar (Atom)







0 komentar:
Posting Komentar