Presiden Jokowi mengingatkan jajaran menteri Kabinet Kerja agar
penggunaan anggaran 2016 berbasis pada program atau money follow
program, bukan berbasis fungsi atau money follow function. Dengan
demikian, anggaran digunakan berdasarkan prioritas program yang dapat
dirasakan langsung oleh masyarakat.
Pesan ini disampaikan Presiden
Jokowi dalam sidang paripurna di Istana Negara, Rabu (10/02), sebagai
tertuang dalam rilis Tim Komunikasi Presiden.
Menurut Presiden,
penggunaan anggaran ke depan tidak lagi berprinsip lagi pada “money
follow function” sehingga penggunaan anggaran dibagi sesuai struktur
organisasi kementerian, mulai dari eselon I sampai IV. “Itu namanya bagi
rata, jadi tidak jelas fokus dan prioritas ke mana,” kata Presiden.
“Ini yang menyebabkan anggaran kita hilang tak berbekas, karena duitnya mengikuti organisasi yang ada,” tambahnya.
Organisasi
memang diperlukan, lanjut Presiden, namun program prioritas tetap yang
harus dikedepankan. “Jadi yang jelas, harusnya money follow program.
Program kita apa, semua fokus ke situ. Kalau tidak begini, tidak akan
terasa oleh masyarakat. Ini hal yang perlu dipersiapkan secara matang,”
ucap Presiden.
Presiden juga meminta untuk memangkas program yang
nomenklaturnya tidak jelas dan tidak ada manfaatnya bagi rakyat. “Saya
ingatkan lagi, kata-kata bersayap dengan menggunakan penguatan,
pengembangan, pemberdayaan, lupakan itu,” ucap Presiden.
Sehubungan
itu, Presiden meminta agar para menteri Kabinet Kerja bisa
mengendalikan arah dan kebijakan anggaran di setiap kementerian yang
dipimpinnya. “Menteri betul-betul mengendalikan anggarannya dan tidak
diberikan ke bawahannya,” katanya.
Penggunaan program juga harus
menyebut langsung keperluannya. Di Kementerian Kelautan dan Perikanan
misalnya, membeli jaring, membeli benih atau membeli ikan. “Sehingga
ngontrolnya mudah, mengawasinya menjadi mudah,” kata Presiden.
sumber: www.kemenag.go.id
Rabu, 10 Februari 2016
Langganan:
Posting Komentar (Atom)







0 komentar:
Posting Komentar