Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin menyampaikan bahwa sikap
menghargai dari adanya kemajemukan merupakan sikap keberagamaan yang
tinggi. Sebab, Tuhan yang maha berkehendak menciptakan manusia
berbeda-beda, baik jenis kelamin, warna kulit, suku, bangsa, bahasa,
maupun agamanya.
Hal ini disampaikan Menag saat memberikan
sambutan pada acara penganugerahan Gelar Doktor Kehormatan (Doctor
Honoris Causa) Bidang Pendidikan Islam kepada Grand Syekh Al-Azhar Prof.
Dr. Ahmad Muhammad Ahmad Ath-Thayyib, di Universitas Islam Negeri
Maulana Malik Ibrahim (Maliki), Malang, Rabu (24/02).
Menag
menilai Grand Syekh sebagai sosok yang sangat menghargai kemajemukan.
Hal ini, salah satunya ditunjukan pada penghargaan mantan Rektor
Universitas Al-Azhar itu kepada kalangan Kristen Koptik Mesir. “Al-Azhar
tidak pernah menganggap kemuliaan gereja-gereja kalian merupakan hal
yang kecil. Pengrusakan yang dilakukan terhadap gereja-gereja tersebut
bukanlah cerminan dari agama Islam dan Islam berlepas tangan dari hal
tersebut,” kata Menag mengutip pernyataan Grand Syeikh terkait imbaunnya
terhadap kalangan Kristen Koptik Mesir..
Dikatakan Menag, bahwa
makna penting dari pernyataan Grand Syeikh ini adalah bahwa Islam tidak
mentolerir cara-cara kekerasan dalam memperjuangkan ‘Izzul Islam
Wal-Muslimin. Menurutnya, bahwa Islam dibangun dengan fondasi rahmah,
disebarkan dengan bil-hikmah, dihiasi dengan uswah hasanah adalah ajaran
dasar Al-Qur’an dan prilaku yang ditunjukkan oleh Rasulullah SAW selama berdakwah di Mekkah dan membangun hadharah (peradaban) di Madinah.
Dalam
konteks Indonesia yang sangat majemuk, lanjut Menag, imbauan dan ajaran
Grand Syekh sangat terasa relevansinya. Kemajemukan merupakan ciri
bangsa Indonesia sejak dulu kala. Bukan saja karena berbagai agama hidup
di nusantara ini, kemajemukan bangsa Indonesia juga tampak pada
keragaman suku, ras, bahasa, warna kulit, dan corak budaya. Dengan kata
lain, kemajemukan identik dengan keindonesiaan itu sendiri.
Menag
memandang, perbedaan dan kemajemukan adalah suatu hal niscaya yang harus
dipandang sebagai modal, bukan penghambat; sebagai kekuatan, bukan
potensi yang merusak. “Maka sikap dan tindakan yang paling penting
sebagai umat beragama adalah memelihara kemajemukan itu sehingga terjadi
harmoni dan kerukunan dalam kehidupan berbangsa dan bermasyarakat,”
katanya.
Menurutnya, pembangunan nasional hanya dapat berjalan
lancar apabila bangsa Indonesia yang terdiri atas beragam suku bangsa,
agama, bahasa, budaya, dan latar belakang yang berbeda-beda bisa hidup
rukun dan toleran dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia.
“Momen
ini, di samping penghargaan kepada seorang ulama berkaliber dunia yang
menjadi juru bicara Islam moderat, juga sangat penting bagi Indonesia
yang sedang mempromosikan Islam Indonesia sebagai tipikal Islam ramah,
moderat, dan rahmatan lil-‘alamin,” tutup Menag.
sumber: www.kemenag.go.id
Rabu, 24 Februari 2016
Langganan:
Posting Komentar (Atom)







0 komentar:
Posting Komentar