Presiden Joko Widodo (Jokowi) meminta anak-anak muda Indonesia yang
berada dan berkarier di luar negeri (diaspora) agar kembali pulang ke
Tanah Air dan mengembangkan usaha.
Selain itu, Kementerian Perdagangan (Kemendag) yang menyatakan
tingkat akurasi atau takaran pengisian bahan bakar minyak (BBM) di SPBU
asing jauh lebih baik dibandingkan SPBU-SPBU lokal yang mayoritas milik
PT Pertamina (Persero).
Hingga langkah PT Pertamina (Persero) yang berencana tidak memberikan
izin operasi pada SPBU yang tidak mengikuti program Pasti Pas.
Penghapusan SPBU non-Pasti Pasti seiring dengan peningkatan kualitas
SPBU yang dilakukan Pertamina menjadi Pasti Prima.
Topik berita-berita tersebut menarik perhatian bagi para pembaca kanal Bisnis, Okezone.com, Rabu (17/2/2016). Berikut berita selengkapnya.
Presiden Jokowi: Pemuda Kreatif Indonesia, Jangan Ragu Untuk Pulang!
Presiden Joko Widodo (Jokowi) meminta kepada anak-anak muda Indonesia
yang berada di luar negeri, khususnya Amerika Serikat (AS) dan ingin
pulang untuk mengembangkan usaha di tanah air, agar tidak pernah ragu
untuk kembali ke tanah air.
"Mau pulang, pulang saja," ucap Jokowi sekaligus menjawab pertanyaan
Maya, seorang profesional yang bekerja di bidang IT di Silicon Valley,
San Francisco tentang kemudahan apa yang akan diberikan pemerintah
Indonesia kepada anak-anak muda kreatif yang telah memiliki jejaring
untuk mengembangkan digital ekonomi di tanah air, Rabu 17 Februari 2016
Jokowi menjelaskan, pengalaman bekerja sebagai seorang profesional di
negara maju seperti Amerika Serikat, tentunya akan menjadikan nilai
tambah yang besar bagi negara. "Saya ingin dalam waktu yang sangat cepat
ini ada 1000 technopreneurs dan developers," kata Jokowi
Pertamina Kaji Penghapusan SPBU Non-Pasti Pas
PT Pertamina (Persero) berencana tidak memberikan izin operasi pada
SPBU yang tidak memenuhi standar pasti pas. Menurut Direktur Pemasaran
Pertamina Ahmad Bambang, penghapusan SPBU non-pasti pas ini seiring
dengan peningkatan kualitas SPBU saat ini menjadi Pasti Prima.
"Jadi ada grade paling rendah itu non pasti pas, pasti pas, dan pasti
prima. Ke depannya non-pasti pas akan dihapus. Kita inginkan SPBU yang
ada minimal pasti pas semua," ujar Bambang saat ditemui di SPBU COCO
Abdul Muis, Jakarta, Rabu 17 Februari 2016
Saat ini, lanjut Bambang, terdapat beberapa SPBU di daerah yang tidak
berada pada level pasti pas. Hal ini disebabkan oleh penurunan kualitas
dari SPBU di berbagai daerah. Selain itu, juga terdapat beberapa SPBU
yang tidak mampu memenuhi standar sesuai aturan Pertanian.
"Beberapa di daerah tidak standar. Ada juga segelnya yang dipalsukan untuk bejana ukur," imbuh Bambang.
Lakukan Kecurangan, Pertamina Ancam Putus Kontrak SPBU
PT Pertamina (Persero) akan menindak tegas SPBU yang tertangkap
melakukan kecurangan dalam hal takaran. Menurut Direktur Pemasaran
Pertamina Ahmad Bambang, saat ini Pertamina telah mengantongi beberapa
data dari masyarakat mengenai kecurangan yang terjadi di beberapa SPBU.
"Saya menerima beberapa keluhan, dari Twitter juga. Setiap keluhan
itu akan kita tanggapi terlepas dari benar atau tidaknya laporan itu,"
ujar Bambang kepada pewarta di SPBU COCO Abdul Muis, Jakarta, Rabu 17
Februari 2016
Bambang melanjutkan, Pertamina akan berikan sanksi secara bertahap
terhadap SPBU yang melakukan kecurangan. Sanksi ini terdiri dari tiga
tahap hingga akhirnya Pertamina memutuskan untuk tidak melakukan
Pemutusan Hubungan Usaha (PHU) dengan SPBU yang tetap melakukan
kecurangan.
"Sanksi pertama kita akan turunkan gradenya. Di Pasti Pas itu ada tiga grade, yaitu excellent, good, dan basic. Biasanya yang berada di level excellent akan berjuang mati-matian untuk mempertahankan gradenya," jelas Bambang.
sumber: www.bumn.go.id
Kamis, 18 Februari 2016
Langganan:
Posting Komentar (Atom)







0 komentar:
Posting Komentar