Selasa, 21 April 2015
Jakarta - Perhelatan Peringatan ke-60 Konferensi Asia Afrika benar-benar tidak berhenti pada selebrasi semata. Salah satu buktinya, KADIN dengan tegas berkomitmen untuk menindaklanjuti semua hasil konferensi yang terkait dengan isu perdagangan. Banyak peluang belum termanfaatkan.
Hal itu dikatakan oleh Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Koordinator Asosiasi, Noke Kiroyan, yang juga merupakan Ketua Pelaksana Asian-African Business Summit (AABS) 2015. “Setiap keputusan konferensi, kami ingin ada tindaklanjutnya secara kongkrit, terutama untuk sektor pengembangan bisnis di kawasan Asia Afrika,” ujarnya dengan mimik serius.
Pernyataan tersebut disampaikan pada saat penyelenggaraan Asian African Business Forum dengan tema “Revitalisasi Kemitraan Asia Afrika untuk Kemajuan dan Kemakmuran” pada 21 April 2015 di Jakarta Convention Centre (JCC). Dalam kesempatan ini hadir tidak kurang dari 500 delegasi yang berasal dari 45 negara di kedua kawasan.
Noke menilai, pertemuan ini sangat strategis bagi Indonesia untuk mempromosikan peluang bisnis dan investasi. “Infrastruktur dan industri strategis kita harapkan dapat tersentuh investasi. Semoga ada realisasi setelah pelaksanaan acara ini,” tambahnya.
Sementara itu, Ketua Kadin Indonesia, Suryo Bambang Sulisto menggarisbawahi, kemitraan Asia Afrika kini memasuki masa yang menarik. Dikatakan, dalam dekade ini terdapat proyeksi pertumbuhan ekonomi yang membaik di kedua kontinen sehingga membuka aneka peluang kerjasama ekonomi dan bisnis yang lebih besar yang selama ini belum tergali. Sementara itu, keinginan aneka perusahaan dari kedua kontinen untuk melakukan perdagangan dan investasi semakin meningkat.
“Adanya komlementaritas antara ekonomi negara-negara Asia dan Afrika, misalnya dalam kerangka Perjanjian Perdagangan Bebas antara negara-negara ASEAN dan Komunitas Pembangunan Afrika Selatan (SADC), negara-negara Afrika Sekatan menyediakan produk-produk pertanian, sedangkan negara-negara ASEAN menyediakan priduk elektronik, mesin-mesin, dan mobil,” katanya.
Kadin sendiri menargetkan, volumer pedagangan Indonesia ke Afrika akan meningkat sekitar 80 persen dalam kurun waktu tiga tahun kedepan, dari sekitar 11 milyar dolar menjadi sekitar 20 milyar dolar per tahun. Nilai tersebut pada galibnya masih jauh lebih rendah dibandingkan nilai perdaganagan Afrika dan Cina yang mencapai 200 milyar dolar, atau antara Afrika dan India sebesar 70 milyar dolar.
“Kita perlu menjajagi peluang-peluang binsis, serta promosi perdagangan yang lebih baik lagi diantara negara-negara Asia Afrika,” kata Ketua Pelaksana AABS 2015, Noke Kiroyan.






0 komentar:
Posting Komentar