Pada pertengahan April 2014, Badan Pusat Statistik (BPS) merilis Indeks Kebahagiaan Indonesia Tahun 2013. Dengan melakukan survey pada sekitar 9.720 sampel dari seluruh Indonesia menghasilkan indeks di level 65,11 dan berada di zona "bahagia". Indeks tersebut merupakan rata-rata dari angkas indeks yang dimiliki oleh setiap individu di Indonesia pada tahun 2013. Dengan demikian, orang Indonesia pada tahun 2013 berada pada level 15 point di atas titik pertengahan indeks, namun masih hampir 35 point untuk mencapai titik tertinggi.
Dalam melakukan survey, BPS menggunakan metode probabilty sampling: PPS Systematic with Replecement. Responden yang disurvey adalah kepala rumah tangga atau pasangan yang dipilih menggunakan kish table yang ditetapkan oleh BPS. Adapun pengumpulan data dilakukan melaui wawancara langsung dengan responden. Wawancara dilakukan secara semi-private dan tidak terburu-buru sehingga responden berada dalam keadaan rileks dan dapat secara jujur memberikan jawaban.
Indikator yang digunakan BPS dalam survey ini adalah indikator objektif dan subjektif terkait 10 domain kehidupan esesnsial, yaitu: pertama, kesehatan; kedua, pendidikan;ketiga, pekerjaan; keempat, pendapatan rumah tangga; kelima, kondisi lingkungan;keenam, kondisi keamanan; ketujuh, hubungan sosial; kedelapan, keharmonisan keluarga;kesembilan, ketersediaan waktu luang; dan kesepuluh, kondisi rumah dan aset.
Menindaklanjuti hasil survey tersebut, Kementerian PPN/Bappenas menggelar pertemuan dengan BPS dan Forum Masyarakat Statistik (FMS) pada Selasa (15/07) di Ruang SS 1-2 Gedung Bappenas. Hadir dalam kesempatan ini diantaranya adalah Deputi Bidang Ekonomi Bappenas, Dr. Prasetijono Widjojo MJ, MA; Deputi Bidang Evaluasi Kinerja Pembangunan Bappenas, Dr. Ir. Edi Effendi Tedjakusuma, MA; Deputi Neraca dan Analisis Statistik-BPS, Dr. Kecuk Suhariyanto; Guru Besar Universitas Hasanuddin, Prof. Dr. H.M. Tahir Kasnawi; Direktorat Statistik Kesejahteraan Rakyat, Ir. Thoman Pardosi SE, M.Si; dan Ketua FMS, Dr. Sudarno Sumarto.
Menurut Prof. Dr. H.M. Tahir Kasnawi, kesepuluh indikator yang dijadikan ukuran oleh BPS belum sempurna karena tidak memasukan unsur spiritualitas atau iman dan taqwa. Hal ini penting mengingat Bhutan merupakan negara pertama kali yang memperkenalkan konsep kebahagiaan pada tahun 1970 an, memasukan unsur spiritualias (Budhisme) ke dalam indikator kebahagiaan masyarakatnya. “Kesepuluh indikator tersebut hanya membawa kita pada hal-hal yang bersifat material semata,” katanya.
Sementara itu, Dr. Prasetijono Widjojo MJ, MA mengatakan bahwa tingkat kebahagiaan di suatu tempat berbeda dengan tempat yang lain. Hal ini beliau sampaikan saat menganggapi hasil survey BPS yang menyatakan bahwa tingkat kebahagiaan di daerah perkotaaan lebih besar (65,92 dari 0-100) dibandingkan dengan daerah pedesaan (64,32 dari 0-100). “Untuk hal-hal tertentu seperti persoalan pendapatan, daerah perkotaan memang lebih baik. Namun, untuk persoalan keharmonisan rumah tangga dan kondisi lingkungan daerah pedesaan jauh lebih baik,” ungkapnya.
Pertemuan ini menggarisbawahi beberapa hal penting, di antaranya: pertama, spiritualitas akan dimasukan ke dalam indikator kebahagiaan dalam survey Indeks Kebahagiaan Masyarakat Indonesia tahun-tahun berikutnya dimana sampai sekarang masih berada dalam tahap pengkajian; kedua, akan memperluas cakupan responden yang lebih beragam untuk survey Indeks Kebahagiaan Masyarakat Indonesia berikutnya.






0 komentar:
Posting Komentar