Pesantren adalah lembaga pendidikan agama yang selalu menebarkan
kedamaian dan akhlakul karimah dalam bingkai rahmatan lil alamin. Dengan
penguasan ilmu keislaman yang memadai dan komprehensif, para santri
pesantren dapat menjadi benteng pertahanan atas bahaya radikalisme dan
terorisme.
Pesan ini disampaikan Menag Lukman Hakim Saifuddin
saat memberikan sambutan sekaligus membuka Jambore Nasional Santri
Pondok Pesantren Muhammadiyah di Bumi Perkemahan Cakra Pahlawasri,
Karanganyar, Jumat (26/02).
Hadir dalam kesempatan ini, Asisten
Gubernur Jawa Tengah Bidang Kesra, Kakanwil Kemenag Provinsi Jateng
Ahmadi, Bupati Karanganyar Yuliatmono, Pengurus Wiliayah Muhammadiyah,
Pemgurus Ittihadul Ma’ahid al-Muhammadiyah (ITMAM), Kankemenag Karanganyar, para Penyuluh Agama, serta santri pondok pesantren Muhammadiyah.
“Temuan
penelitian Badan Litbang Kementerian Agama Tahun 2010, ada hubungan
yang signifikan antara penguasaan ilmu keagamaan dengan penghindaran
tindakan kekerasan atas nama agama,” terang Menag.
“Semakin
mendalam pengetahuan keagamaan seseorang, maka ia semakin menghindar
untuk melakukan tindakan kekerasan atas nama agama,” tembahnya.
Menag
Lukman menolak penilaian bahwa pesantren sebagai sarang teroris dan
radikalisasi agama. Menurutnya, penilaian seperti itu tidak didasarkan
pada fakta yang meyakinkan dan dikeluarkan oleh orang-orang yang belum
memahami pesantren secara utuh. “Kalau ada yang mengaku pesantren tapi
mengusung paham radikal, itu bukan pesantren, tapi organisasi mirip
pesantren,” jelasnya.
Menag menegaskan bahwa hampir tidak ada
orang yang menafikan peran pesantren dan kontribusi besar santri dalam
lintasan sejarah bangsa dan negara. Para santri bahkan telah banyak
mewakafkan hidupnya untuk mewujudkan kejayaan bangsa, sejak zaman
kolonialisme, kemerdekaan, dan hingga sekarang.
Di zaman
kemerdekaan, lanjut Menag, santri dengan komando para kyai berani tampil
di depan melawan penjajahan dan kezaliman. Di era kemerdekaan,
konstruksi negara banyak diwarnai pikiran KH Wahid Hasyim dari santri NU
dan Ki Bagus Hadikusumo dari santri Muhammadiyah. Sekarang, banyak
tokoh santri pesantren yang menjadi pemimpin negeri, baik di eksekutif,
legislatif, dan bidang lainnya.
sumber: www.kemenag.go.id
Jumat, 26 Februari 2016
Langganan:
Posting Komentar (Atom)







0 komentar:
Posting Komentar