Gabungan Pengusaha Kepala Sawit Indonesia (Gapki) meyakini ekspor
minyak sawit mentah (CPO) akan melampaui migas dalam beberapa tahun ke
depan.
Ketua Umum Gapki Joko Supriyono membeberkan tahun lalu
produksi CPO Indonesia mencapai 32,5 juta ton. Dari jumlah itu, sebanyak
26 juta ton CPO diekspor dengan nilai yang ditaksir mencapai US$18,5
miliar.
“Nilai ekspor untuk tahun lalu sudah menyamai migas, yang selama
bertahun-tahun menjadi komoditas andalan kita. Beberapa tahun lagi saya
yakin bisa melampaui,” katanya dalam acara diskusi Festival Iklim 2016 di Jakarta, Rabu (3 Februari 2016).
Joko mengatakan capaian tersebut dia sampaikan dalam pertemuan dengan
Presiden Joko Widodo di Istana Negara, Selasa (2 Februari 2016).
Kemarin, Jokowi juga menerima pengusaha yang tergabung dalam Asosiasi
Pengusaha Hutan Indonesia (APHI) dan Asosiasi Pulp dan Kertas Indonesia
(APKI).
Menurunnya kontribusi ekspor migas tidak terlepas dari anjloknya
harga emas hitam sepanjang 2015. Pada saat yang sama, harga CPO juga
drop sehingga ekspor yang biasanya US$21 miliar merosot ke angka US$18,5
miliar.
Joko mengklaim ekspor CPO turut menyelamatkan neraca perdagangan
Indonesia yang mengalami defisit. Namun, kata dia lagi, industri
tersebut masih menghadapi sejumlah kendala seperti fluktuasi harga
hingga kampanye negatif di pasar negara-negara maju. “Padahal pohon
kelapa sawit itu juga menjadi penyerap emisi karbon,” ujarnya.
Selain penyerap karbon, Joko mengatakan industri sawit juga dapat
berkontribusi dalam pengendalian perubahan iklim dengan implementasi
biodiesel. Berdasarkan riset, satu liter biodiesel mengemisi karbon
ekuivalen sebanyak 1,54 kilogram (kg), sedangkan solar 2,6 kg. “Bisa
dihitung sendiri kalau tahun lalu biodiesel itu ada 1 juta ton berapa
sumbangannya untuk mengurangi emisi,” tuturnya.
Pernyataan Joko Supriyono dibantah Direktur Eksekutif WALHI Abednego
Tarigan. Dia menilai Indonesia perlu mengurangi ketergantungan dari
kelapa sawit bila berimplikasi pada ekspansi hutan secara besar-besaran.
Apalagi, dia mengungkapkan, berkah kelapa sawit justru tidak dinikmati
sepenuhnya oleh orang Indonesia.
sumber: www.bumn.go.id
Minggu, 21 Februari 2016
Langganan:
Posting Komentar (Atom)







0 komentar:
Posting Komentar