Sebagai
salah satu pasar non-tradisional Indonesia, Afrika Sub-Sahara
menjanjikan peluang besar bagi berbagai produk dan jasa unggulan
Indonesia. Direktur Afrika Kementerian Luar Negeri, Drs. Lasro
Simbolon, MA, menyebutkan, “Dengan sejumlah potensinya, Afrika
telah menjadi daya tarik bagi kalangan bisnis dunia. Jumlah penduduk
Afrika Sub-Sahara mencapai hampir 1 milyar dengan ditunjang oleh
pertumbuhan ekonomi yang relatif stabil serta tren peningkatan daya
beli masyarakat menengah lebih dari 300 juta dan terus tumbuh sekitar
3,2% per tahun, merupakan peluang yang harus digarap secara serius
oleh pelaku usaha Indonesia.” Hal ini disampaikan pada acara Forum
Bisnis “Penguatan Sinergi Pelaksanaan Misi Ekonomi RI ke Afrika
Sub-Sahara”, yang diselenggarakan Direktorat Afrika, Kementerian
Luar Negeri (4/2)
Direktur
Afrika memaparkan program diplomasi ekonomi Kemlu RI ke Afrika
periode tahun 2016, untuk disinergikan dengan seluruh stakeholders.
Dijelaskan bahwa nilai perdagangan Indonesia dengan Afrika Sub-Sahara
mencapai USD 9,1 milyar pada tahun 2014, dengan tren kenaikan sebesar
17,8% pada periode 2010-2014. Sementara itu, produk ekspor unggulan
Indonesia antara lain CPO dan turunannya, produk makanan, bahan
kimia, tekstil dan produk tekstil, obat-obatan, kendaraan bermotor
dan suku cadangnya, furnitur dan kerajinan, alat mesin pertanian
serta produk industri strategis.
Sementara
itu, Indonesia mengimpor migas, kapas, tembakau, kulit hewan dan
beberapa mineral/produk tambang. Dalam hal investasi, saat ini
terdapat sekitar 25 perusahaan Indonesia yang telah beroperasi di
Afrika Sub-Sahara, antara lain PT. Indofood, PT. Sinar Antjol dan
Buzi Hydrocarbons. Meskipun demikian, nilai perdagangan dan investasi
tersebut masih belum mencerminkan peluang dan potensi Afrika yang
sesungguhnya. Untuk itu, melalui forum ini, Direktorat Afrika
mengajak pelaku usaha Indonesia untuk berpartisipasi pada forum
bisnis bilateral dan pameran-pameran dagang internasional di Afrika
Sub-Sahara.
Forum
bisnis menghadirkan sebagai pembicara Direktur Pemberdayaan Usaha,
BKPM RI; Pejabat Senior Ditjen PEN, Kemendag RI; serta Ketua Komite
Tetap Afrika, KADIN RI. Acara dihadiri oleh 50 pelaku usaha dari
berbagai sektor, seperti consumer
goods, produk plastik, alat
mesin pertanian, energi, furnitur dan wakil perbankan. Turut hadir
pula sejumlah perwakilan dari Kementerian/instansi terkait dan Kantor
Konsul Kehormatan Afrika Sub-Sahara di Indonesia.
Sejumlah
pengusaha yang hadir antara lain CV. KHS (mesin pertanian), PT. Naga
Semut (plastik) dan PT. Tiga Pilar Sejahtera (makanan) telah
menyatakan minatnya untuk berpartisipasi pada Indonesian Solo
Exhibition di Lagos, pameran Africa’s Big Seven di Afrika Selatan
dan pameran dagang internasional lainnya di kawasan. Selain itu,
sejumlah pengusaha yang telah memiliki pengalaman berkiprah di Afrika
seperti PT. Buzi Hydrocarbons (energi) dan Perum Peruri juga ikut
membagi pandangan dan pengalamannya dalam memperkuat bisnis di Afrika
Sub-Sahara.
Kegiatan
telah berlangsung dengan baik dan mendapat apresiasi dan respon
positif baik dari peserta maupun narasumber. Para peserta memandang
perlu diselenggarakan forum bisnis serupa yang mencakup sektor-sektor
yang lebih luas serta melibatkan lebih banyak pemangku kepentingan






0 komentar:
Posting Komentar