Anggota Dewan dari Dapil Jawa Barat V
ini mengungkapkan, bahwa demokrasi yang diajarkan oleh Bung Hatta
merupakan basis ideologi politik yang brilian. Demokrasi yang dimaksud
adalah demokrasi sosial, yakni himpunan antara demokrasi politik dan
demokrasi ekonomi.
"Demokrasi kita bukan demokrasi an sich
demokrasi politik, yang hanya mengutamakan kebebasan, tapi juga bukan
hanya sekedar demokrasi ekonomi yang mengedepankan persamaan. Demokrasi
kita kata Bung Hatta adalah gabungan dari demokrasi politik dan
demokrasi ekonomi, yaitu menjadi demokrasi sosial," tegas Fadli disambut
tepuk tangan riuh dari peserta mukernas.
Politisi dari Farksi Partai Gerindra
ini menjelaskan, demokrasi sosial berbasis pada tradisi dan budaya
gotong royong dan musyawarah mufakat yang telah ada pada kearifan
nusantara. Dia juga mengatakan, Negara Indonesia memilih demokrasi
menjadi pilihan dalam sistem politik nasional telah melewati proses
perdebatan panjang.
Fadli yang semasa kuliah pernah
menjadi Sekretaris Umum di Senat Mahasiswa Fakultas Sastra Universitas
Indonesia ini, mengutip pemikiran Bung Hatta, karena dia mengakui bahwa
pemikirannya cukup tajam dan konseptual dalam persoalan kenegaraan. Dia
menyimpulkan pemikiran Bung Hatta ada empat poin yang inti dari semua
itu adalah kebahagiaan seluruh masyarakat Indonesia.
Empat poin tersebut adalah, kecukupan
pangan, kecukupan sandang, hunian yang layak untuk segenap rakyat, dan
kesehatan serta jaminan hari tua. "Itu kata Bung Hatta tentang
kebahagiaan," ujar Fadli.
Fadli yang pernah menjabat sebagai
Sekretaris Jenderal Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) pada tahun
2010 - 2015 ini mengatakan, sebenarnya tujuan bangsa ini bernegara,
bukan hanya untuk kesejahteraan saja, tapi lebih dari itu adalah
kebahagiaan untuk seluruh rakyat Indonesia. Meskipun dia mengakui yang
dimaksud kesejahteraan itu relatif menurut penilaian seluruh orang.
"Kesejahteraan itu memang relatif
antara satu orang dengan orang lain, tapi intinya hidup kita di
Indonesia tidak tersia-sia dan ada jaminan terhadap hidup kita," jelas
Fadli.
Masih mengutip pemikiran Bung Hatta,
Fadli yang pernah menjadi Dewan Redaksi, Majalah Sastra Horison ini,
mengatakan para bapak pendiri Bangsa Indonesia tidak tekstual mengadopsi
kapitalisme, liberalisme, dan komunisme. Tapi para pendiri bangsa
melakukan asimilasi terhadap nilai-nilai positif yang terkandung dari
banyak ideologi, dengan mempertimbangkan budaya lokal nusantara.
Dalam ceramahnya Fadli juga mengajak
mahasiswa untuk memiliki nalar kritis menghadapi globalisasi. "Kita
menghadapi globalisasi dan demokratisasi. Kita menganggap bahwa
demokrasi adalah jalan yang benar, tetapi kita juga harus kritis,
demokrasi macam apa yang cocok untuk indonesia?" tanya Fadli kepada para
kader KAMMI.






0 komentar:
Posting Komentar