Kamis, 09 April 2015
Kepala Pusat Pendidikan dan Pelatihan Kementerian Luar Negeri, Duta Besar Soehardjono Sastromihardjo, mewakili Indonesia sebagai tuan rumah secara resmi membuka The 10th Annual Meeting of Deans and Directors of Diplomatic Training Institutions of the ASEAN+3 pada Kamis (9/4) pagi di Nusa Dua, Bali. Pertemuan ini untuk pertama kalinya dihadiri oleh perwakilan dari seluruh negara anggota ASEAN+3 (Jepang, Korea Selatan, Tiongkok) serta wakil dari ASEAN Secretariat.
Dubes Soehardjono menekankan betapa pentingnya peran ASEAN+3 bagi masing-masing negara anggota. Dengan nilai perdagangan antar-negara sebesar USD 726 miliar, atau hampir setara 30% perdagangan total ASEAN, kerja sama ekonomi ASEAN+3 telah membuka banyak lapangan pekerjaan. Peluang investasi serta berkembangnya Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) menjadi cara memupus kemiskinan dan meningkatkan kemakmuran negara.
Oleh karena itu, sejalan dengan visi dan misi pemerintah RI saat ini, Indonesia mengangkat tema diplomasi ekonomi pada gelaran kesepuluh pertemuan Kapusdiklat ASEAN+3 tahun ini. Hal yang ingin disoroti adalah bagaimana diplomasi ekonomi dapat berperan dalam penguatan integrasi ekonomi regional di ASEAN. Tema lain yang mengemuka adalah bagaimana memaksimalkan pemanfaatan teknologi dengan metodee-learning agar proses belajar selama pelatihan menjadi lebih efektif dan efisien.
Jika Tak Kenal Maka Tak Sayang
“A true sharing and learning in the region requires face-to-face interaction among diplomats,” kata Dubes Soehardjono.
Segala teori tentang diplomasi dan isu-isu terkini tidak cukup membuat seseorang menjadi diplomat yang sesungguhnya. Pelajaran terbaik adalah ketika mereka bertemu dan berinteraksi satu sama lain.
Dengan saling bertemu muka, para diplomat dapat secara langsung memperluas hubungan pertemanan sekaligus pengetahuan. Mereka bertukar pengalaman dan pelajaran yang dimiliki atas dasar keterbukaan dan rasa saling menghormati. Kualitas hubungan semacam ini dirasa penting untuk dibangun mengingat visi besar jangka panjang East Asia Community.
Pertemuan ini dibagi dalam dua bagian, yaitu seminar dan diskusi, dan menghasilkan dokumen akhir dalam bentuk Report yang rencananya akan menjadi bagian dari mekanisme rutin ASEAN+3. Seminar akan diberikan oleh ERIA (Economic Research Institute of ASEAN and East Asia) dan dari UNITAR (United Nations Institute for Training and Research). Tiongkok, Thailand, Jepang, Korea, Singapura, dan Indonesia akan mengambil bagian sebagai pembicara dalam diskusi.






0 komentar:
Posting Komentar