Keserasian Sosial Mampu Redam Konflik dan Perkuat Jati Diri Bangsa
Ragam suku bangsa merupakan modal sosial
dan benteng ketahanan bangsa. Kementerian Sosial berkepentingan menjaga
dan melestarikan nilai-nilai kearifan lokal, sebagai solusi mengatasi
konflik sosial.
“Setiap suku bangsa, memiliki budaya dan
tata nilai kearifan lokal, norma, tradisi serta perilaku hidup,” ujar
Menteri Sosial Salim Segaf Al Jufri saat kunjungan kerja di Luwuk
Kabupaten Banggai, Provinsi Sulawesi Tengah, Minggu (16/3/2014).
Data Direktorat Komunitas Adat Terpencil
(KAT), Kementerian Sosial (Kemensos), terdapat 250 suku bangsa.
Keragaman itu, terlihat dari falsafah hidup, misalnya, di Suku Sunda
memiliki ajaran silih asuh silih asih silih asah, di Maluku terdapat
pela gandong, serta di Sumbawa terdapat Sabalong Samalewa.
“Masing-masing adat istiadat mengarah
pada tatanan hidup seimbang, antara manusia dengan manusia, manusia
dengan alam, serta manusia dengan tuhan, ” tandasnya.
Akulturasi, asimilasi dan perubahan
zaman membawa dampak pada melunturnya sistem budaya asli. Terkadang
menjurus pada konflik sosial di masyarakat. Selain itu, hilangnya rasa
saling percaya, komunikasi antar warga terhambat, serta melemahnya
kohesivitas sosial di masyarakat.
Indonesia harus belajar pada Jepang,
dimana nilai-nilai kearifan lokal menjadi kekuatan modern yang dinamis.
Selain itu, peran raja dalam situasi kritis menjadi figure pemersatu dan
pembuat keputusan di antara pihak-pihak yang berseteru. Bagitu pula, di
negeri Gajah Putih, Thailand.
“Sejatinya, Bangsa Indonesia sebagai
negeri santun, ramah, dan memiliki semangat gotong-royong. Ada 188 titik
konflik sosial yang harus dibangun komunikasi dua arah sebagai solusi, ”
beber Mensos.
Saat ini, saatnya mengakhiri semua
pertikaian, diganti karya nyata bagi bangsa. Terbukti, kesetiakawanan
sosial efektif mengatasi masalah dan konflik sosial yang beragam. Dengan
nilai-nilai kearifan lokal tersebut, dipastikan bisa menjaga keserasian
sosial antarwarga.
“Program Kemensos strategis adalah menguatkan kohesivitas dengan keserasian sosial, ” ujarnya.
Keserasian sosial dikemas dengan
berbagai bentuk, misalnya, musyawarah antar warga, membuat fasilitas
sosial dan fasilitas akses interaksi antar warga, serta pagelaran
kesenian tradisional. Sedangkan, Kemsos mendukung kegiatan tersebut Rp
109 juta sesuai pilihan kegiatan.
Program sudah berjalan di 33 provinsi.
Setiap warga yang disentuh mengajukan usulan, untuk selanjutnya
diverifikasi kelayakannya, termasuk uji petik di lokasi sasaran. Untuk
itu, keserasian sosial membutuhkan sumber daya manusia (SDM) perdamaian
terlatih, penguatkan nilai-nilai kearifan lokal dan tradisi positif
masyarakat, seperti ronda, pengumpulan beras (jumputan).
“Ketiga hal di atas, bisa menjadi sistem
peringatan dini atau early warning system, jika timbul gejala-gejala
yang mengganggu kohesivitas sosial warga di satu wilayah, ”tandasnya.
Kesetiakawanan Sosial mampu meredam
konflik sosial yang tahun ini merupakan tahun politik, masyarakat jangan
mudah terpancing dari isu yang disebarkan oleh orang-orang yang tidak
bertanggung jawab.
Dalam kesempatan itu, Mensos menyerahkan
paket bantuan di Kabupaten Banggai, berupa Program Keluarga Harapan
(PKH) Tahun 2014 senilai Rp7.930.000.000; Keserasian Sosial 4 Paket @
109.000.000 Total Rp 436 juta, Kearifan Lokal Rp 50 juta, Kelompok Usaha
Bersama (KUBE) 20 Kelompok Rp 400 juta dan bantuan 135 anak Rp 135
juta. Untuk Kabupaten Banggai Laut, berupa Mobil RTU 1 unit Rp
372.500.000.
Bantuan untuk Kab Banggai Kepulauan 20
Kelompok Usaha Bersama (KUBE) Rp 400 Juta, Bantuan untuk Rumah Tidak
Layak Huni (RTLH) 40 Unit berjumlah Rp 400 Juta, Total Bantuan yang
diserahkan secara simbolis oleh Mensos adalah : Rp10.523.500.000. (PP/Biro Humas)
|
Minggu, 16 Maret 2014
Di Tahun Politik, Warga Jangan Mudah Terpancing
21.56.00
No comments
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Keserasian Sosial Mampu Redam Konflik dan Perkuat Jati Diri Bangsa




0 komentar:
Posting Komentar