usaha berhasil

Jumat, 31 Januari 2014

Menparekraf Mari Pangestu Menghadiri World Economic Forum, Davos, Swiss




Pariwisata dan Ekonomi Kreatif sebagai Sumber Pertumbuhan Era Baru
Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Mari Elka Pangestu, mengikuti Pertemuan Tahunan World Economic Forum (WEF) 2014 di Davos, Swiss pada tanggal 23-24 Januari 2014. Menparekraf adalah salah satu delegasi Indonesia yang hadir kali ini di Davos, bersama-sama dengan Menteri Luar Negeri, Menteri Keuangan, Menteri Perdagangan, Gubernur Bank Indonesia, Kepala BKPM, dan sejumlah perwakilan dari swasta dan calon pemimpin muda yang terpilih sebagai WEF Young Global Leaders dan Global Shapers.
World Economic Forum merupakan forum tahunan terkemuka dunia yang membahas perkembangan perekonomian dunia dan perkembangan dari berbagai isu penting di dunia baik politik dan keamanan, perubahan iklim, pembangunan berkelanjutan maupun budaya dan kreatifitas.  Forum dihadiri oleh Kepala Negara, Menteri, kepala lembaga internasional, pemilik dan CEO dari perusahaan-perusahaan terkemuka dari selurun dunia, tokoh dan pelaku dari berbagai bidang, dan juga perwakilan dari kalangan muda yang diperkirakan dapat menjadi pemimpin di masa yang akan datang.
Diluar mendengarkan dan diskusi perkembangan-perkembangan terkini, dan menyampaikan perkembangan dan pendapat Indonesia, WEF merupakan forum yang baik untuk bertemu dengan sejumlah tokoh dalam rangka membangun jejaring untuk kepentingan Indonesia, baik di tingkat negara-negara, negara-swasta maupun swasta-swasta.
Menparekraf berpartisipasi dalam acara promosi Indonesia baik di Malam Indonesia yang diselengarakan untuk ke-4 kalinya oleh Kementerian Perdagangan dan BKPM, maupun di forum investasi yang diselengarakan oleh BKPM.
Setelah empat kali diselengarakan, Malam Indonesia telah menjadi acara tetap dalam program WEF yang ditunggu-tunggu oleh peserta karena telah berhasil menjadi ajang promosi Indonesia baik dari diplomasi kuliner, sebagai ajang untuk menunjukkan kekayaaan warisan budaya dan kreatifitas Indonesia melalui seni pertunjukan tradisional maupun komtemporer, dan untuk memperlihatkan kehangatan sambutan orang Indonesia.  Beberapa ikon kuliner Indonesia seperti nasi goreng dan rendang menjadi menu dari Malam Indonesia.
Selain itu Menparekraf juga memenuhi undangan WEF untuk menjadi pembicara di Pertemuan Tahunan yang diadakannya untuk membawa contoh keberhasilan Indonesia sebagai salah satu pionir penting dalam membangun pariwisata berkelanjutan dan ekonomi kreatif.  Pada setiap kesempatan termasuk di saat pertemuan dengan para investor dan berbagai perwakilan dunia usaha, dan bilateral dengan perwakilan dunia usaha dari pariwisata dan industri kreatif, Menparekraf menjelaskan potensi Indonesia di kedua bidang tersebut.  Rata-rata respons dari berbagai petemuan menunjukkan bahwa perkembangan dan potensi Indonesia dianggap sangat positif, baik sebagai pasar yang bertumbuh pesat dan berkelanjutan, maupun sebagai sumber SDM dan talenta yang produktif dan kreatif.   Beberapa investor dari sektor perhotelan yang sudah berada di Indonesia menyampaikan rencananya untuk melakukan ekspansi di Indonesia, dan bahkan salah satu hotel chain yang terkenal menyampaikan bahwa Indonesia masuk dalam negara top ten mereka.
Dalam sesi “Cultural Heritage: Beyond Repair”, Menparekraf sebagai salah satu pembicara menegaskan bahwa menjaga warisan budaya harus mencakup bukan saja perlindungan tetapi juga pengembangannya dan pemanfaatan sehingga tercipta nilai tambah.  Jawabannya adalah bagaimana menjaga dan mengembangkan berbagai lokasi warisan budaya sebagai destinasi wisata yang berkelanjutan dan mengembangkan industri kreatif berbasis warisan budaya dan kearifan lokal.
Warisan budaya dapat menjadi daya tarik pariwisata yang berkelanjutan asalkan dalam menjadi atraksi untuk dikunjungi dan diapresiasi oleh pengunjung dijaga dan dilindungi, dikembangkan agar komunitas setempat dapat manfaat dari perkembangan wisata (termasuk pengembangan SDM setempat dan pemanfaatan dari efek pengganda seperti kuliner, souvenir dan tempat penginapan).   Disamping itu menjaga budaya setempat dengan menjaga yang asli dan tradisonal, tetapi dengan semangat kontemporer agar dapat menjangkau dan diapresiasi oleh lebih banyak masyakarat.
Dalam menceritakan warisan budaya, yang penting adalah cerita mengenai orang-orang kreatif yang ada di Indonesia dari zaman dulu sampai dengan sekarang.  Misalnya kehebatan Borobudur yang telah diakui UNESCO sebagai warisan budaya dunia, bukan saja karena merupakan candi Buddhist terbesar di Dunia yang dibangun di abad-9.  Tetapi karena peradaban dan kreatifitas orang Indonesia sejak abad 9 masih berlanjut sampai dengan sekarang seperti dapat dilihat dari orang-orang kreatif pemahat batu dan pengukir yang masih berada di sekitar candi Borobudur.
Hal tersebut juga yang dilandasi SDM produktif dan kreatif di Indonesia yang menjadikan ekonomi kreatif sebagai sumber daya saing baru bagi Indonesia.  Salah satu cara dimana warisan budaya dan kearifan lokal dapat terjaga dan diapresiasi, adalah bilamana dapat dikembangkan sehingga menciptakan nilai tambah.  Beberapa contoh warisan budaya Indonesia seperti batik dan wayang tetap bertahan dalam bentuk asli dan tradisionalnya, namun dengan pemanfaatan yang lebih kontemporer dan berkembang terus karena kreatifitas, dapat menciptakan nilai tambah dan menghidupkan kembali ketrampilan yang hampir punah.   Batik tidak lagi digunakan dalam acara resmi dan formal, tetapi telah berkembang untuk berbagai kegunaan karena sentuhan-sentuhan dari desainer seperti Iwan Tirta, maupun percontohan penggunaan batik oleh semua kalangan.  Misalnya pengunaan batik satu sampai dua kali seminggu di kalangan pemerintahan.  Perkembangan tidak terbatas kain dan fesyen, tetapi juga untuk interior, keramik, dan seterusnya (termasuk ban mobil dan mobil).  Dengan demikian perajin Batik dan UMKM di industri batik dapat hidup kembali di seluruh pelosok Indonesia.
“Semboyan dari industri kreatif yang berbasis warisan budaya adalah bagaimana warisan budaya bisa menjadi basis dan inspirasi untuk menciptakan sesuatu yang baru dan mempunyai nilai tambah.  Singkatnya berbasis tradisional tetapi dengan semangat kontemporer”, ujar Mari Pangestu. Scarf rancangan Eko Nugroho untuk salah satu merk fashion internasional misalnya terinspirasi atas nilai-nilai budaya yang hidup dalam kehidupan masyarakat sehari-hari.
Selain itu, Mari Pangestu juga memberi contoh bagaimana kota dapat berperan dalam menumbuhkan daya kreasi yang khas dan digunakan secara kolektif dari masyarakat kota tersebut. Tumbuhnya berbagai kegiatan yang merayakan kreativitas anak muda Indonesia dengan menggunakan ruang-ruang kreatif telah mendorong gelombang kreatif di kota-kota seperti Jakarta, Bandung, Solo, dan Yogyakarta. Perayaan festival yang khas dari tiap kota dan daerah juga menjadi media untuk mendorong kreasi dari orang kreatif serta apresiasi lebih tinggi dari masyarakat umum pada karya kreatif Indonesia.
Sebagai satu-satunya negara yang memiliki kementerian pariwisata dan ekonomi kreatif, Indonesia dinilai sebagai salah satu negara pelopor pengembangan ekonomi kreatif serta pengembangan sektor pariwisata dan ekonomi kreatif secara holistik. Kedua sektor ini dinilai dalam kancah global sebagai sumber pertumbuhan baru dan sebagai pencipta lapangan kerja yang berkualitas. Pekerja di sektor pariwisata dan ekonomi kreatif menciptakan nilai tambah yang tinggi dan memberikan kontribusi yang positif pada kualitas hidup masyarakat. Pariwisata dan ekonomi kreatif juga dianggap sebagai salah satu sektor yang mampu mendorong pertumbuhan yang inklusif dengan eratnya faktor pengembangan masyarakat lokal di dalamnya.
Sedangkan dalam sesi “Norms and Values in Digital Media”, pembahasan seputar bagaimana perkembangan teknologi untuk konten mengalami perkembangan pesat.  Fokus pembahasan adalah mengenai bagaimana memahami HAKI (Hak atas Kekayaan Intelektual) yang ada dalam sebuah konten, bagaimana melindungi, melakukan produksi dan distribusi dengan melindungi hak pencipta tetapi dapat diakses, dan persinggungan-persinggungan antara akses bebas dengan akses terbatas untuk sebuah konten.   Karena kesulitan peraturan dan perundangan dan kapasitas untuk menerapkan peraturan untuk mengikuti perkembangan teknologi, maka harus timbul cara-cara perlindungan atau model bisnis baru untuk dapat melindungi hak cipta pencipta dan dengan demikian nilai tambah dari ciptaannya.  Berbagai contoh menarik dan perkembangan pemikiran penanganan isu ini dapat menjadi pembelajaran bagi Indonesia.

Sumber : Kemenparekraf

0 komentar:

Posting Komentar

 
KEMENTERIAN DALAM NEGERI - KEMENTERIAN LUAR NEGERI - KEMENTERIAN PERTAHANAN - KEMENTERIAN HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA - KEMENTERIAN KEUANGAN - KEMENTERIAN ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL - KEMENTERIAN PERDAGANGAN - KEMENTERIAN PERTANIAN - KEMENTERIAN KEHUTANAN - KEMENTERIAN PERHUBUNGAN - KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN - KEMENTERIAN TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI - KEMENTERIAN PEKERJAAN UMUM - KEMENTERIAN KESEHATAN - KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN - KEMENTERIAN SOSIAL KEMENTERIAN AGAMA - KEMENTERIAN PARIWISATA DAN EKONOMI KREATIF - KEMENTERIAN KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA - KEMENTERIAN RISET DAN TEKNOLOGI - KEMENTERIAN KOPERASI DAN USAHA KECIL MENENGAH - KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP - KEMENTERIAN PEMBERDAYAAN PEREMPUAN DAN PERLINDUNGAN ANAK - KEMENTERIAN PENDAYAGUNAAN APARATUR NEGARA DAN REFORMASI BIROKRASI - KEMENTERIAN PEMBANGUNAN DAERAH TERTINGGAL - KEMENTERIAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL - KEMENTERIAN BADAN USAHA MILIK NEGARA - KEMENTERIAN PERUMAHAN RAKYAT - KEMENTERIAN PEMUDA DAN OLAH RAGA