Kementerian Pekerjaan Umum (PU) akan membangun sebuah bendung pada Kanal Banjir Timur (KBT) pada tahun depan. Bendung tersebut ditujukan untuk menjaga volume air pada KBT agar dapat digunakan untuk transportasi air.
“Tahun depan kita tambah satu weir (bendung) supaya airnya ada terus, mudah-mudahan dengan cara itu nanti kita punya taksi air,”sebut Wakil Menteri PU, Hermanto Dardak saat berbicara pada Peluncuran Smart Society, Smart City dan Smart Indonesia di Hotel Millenium Jakarta pada Selasa (3/12) malam.
Namun Dardak mengakui untuk mewujudkan transportasi air pada KBT menghadapi tantangan mengenai sampah. Setiap harinya jumpah sampah pada Sungai Cipinang mencapai 30 ton. Ini yang harus dicari penanganannya, antara lain melalui sosialisasi program Reuse, Reduce. Recycle kepada masyarakat ibukota.
KBT sendiri telah ditetapkan Pemerintah sebagai percontohan infrastruktur hijau. Infrastruktur sepanjang 23,5 Kilometer (Km) tersebut yang berfungsi untuk penanganan banjir, juga dilengkapi sarana dan prasarana ramah lingkungan berupa jalur pejalan kaki dan pesepeda, serta taman-taman.
Hermanto mengatakan, keberadaan kanal banjir yang berwawasan hijau sangat penting dalam sebuah kota karena merupakan salah satu indeks dalam tingkat kenyamanan hunian sebuah kota. Dia mencontohkan Korea Selatan yang merestorasi sungai-sungainya untuk kemudian indeks kenyamanan kotanya meningkat.
“Green kanal itu juga salah satu indeks tinggi untuk indeks livebale city, di Korea Selatan mereka restorasi sungai termasuk di Seoul untuk menarik masyarakatnya. Rumah-rumah yang menghadap kanal itu biasanya memiliki harga paling mahal,”imbuhnya.
Dalam kesempatan tersebut, Wakil Menteri PU juga mengungkapkan pihaknya kini aktif dalam mewujudkan kota-kota hijau di Indonesia. Kementerian PU telah bekerja sama dengan 110 kota untuk membangun green cities. Program kota hijau merupakan pelaksanaan dari UU No 6 tahun 2007 tentang Penataan Ruang.
Sementara berbicara mengenai progres pembuatan Peraturan Daerah (Perda) Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW), Hermanto menuturkan hinggi kini sudah 18 provinsi yang telah merampungkannya. Sementara untuk Perda RTRW tingkat Kabupaten dan Kota masing-masing telah mencapai 60 persen dan 70 persen.
Dalam acara Smart Society, Smart City, Smart Indonesia juga hadir antara lain Direktur Jenderal Penataan Ruang, Basoeki Hadimoeljono, Direktur Perkotaan Dadang Rukmana, Guru Besar STEI ITB Suhono Harso, Deputi Bidang Industri, Perdagangan dan Transportasi DKI Jakarta, Sutanto Soehodho dan Walikota Bogor Bima Arya. (rnd)
sumber:kementrian pekerjaan umum RI
Selasa, 03 Desember 2013
Wujudkan Transportasi Air, PU Bangun Bendung di KBT
20.33.00
No comments
Rabu , 4 Des 2013
Kementerian Pekerjaan Umum (PU) akan membangun sebuah bendung pada Kanal Banjir Timur (KBT) pada tahun depan. Bendung tersebut ditujukan untuk menjaga volume air pada KBT agar dapat digunakan untuk transportasi air.
“Tahun depan kita tambah satu weir (bendung) supaya airnya ada terus, mudah-mudahan dengan cara itu nanti kita punya taksi air,”sebut Wakil Menteri PU, Hermanto Dardak saat berbicara pada Peluncuran Smart Society, Smart City dan Smart Indonesia di Hotel Millenium Jakarta pada Selasa (3/12) malam.
Namun Dardak mengakui untuk mewujudkan transportasi air pada KBT menghadapi tantangan mengenai sampah. Setiap harinya jumpah sampah pada Sungai Cipinang mencapai 30 ton. Ini yang harus dicari penanganannya, antara lain melalui sosialisasi program Reuse, Reduce. Recycle kepada masyarakat ibukota.
KBT sendiri telah ditetapkan Pemerintah sebagai percontohan infrastruktur hijau. Infrastruktur sepanjang 23,5 Kilometer (Km) tersebut yang berfungsi untuk penanganan banjir, juga dilengkapi sarana dan prasarana ramah lingkungan berupa jalur pejalan kaki dan pesepeda, serta taman-taman.
Hermanto mengatakan, keberadaan kanal banjir yang berwawasan hijau sangat penting dalam sebuah kota karena merupakan salah satu indeks dalam tingkat kenyamanan hunian sebuah kota. Dia mencontohkan Korea Selatan yang merestorasi sungai-sungainya untuk kemudian indeks kenyamanan kotanya meningkat.
“Green kanal itu juga salah satu indeks tinggi untuk indeks livebale city, di Korea Selatan mereka restorasi sungai termasuk di Seoul untuk menarik masyarakatnya. Rumah-rumah yang menghadap kanal itu biasanya memiliki harga paling mahal,”imbuhnya.
Dalam kesempatan tersebut, Wakil Menteri PU juga mengungkapkan pihaknya kini aktif dalam mewujudkan kota-kota hijau di Indonesia. Kementerian PU telah bekerja sama dengan 110 kota untuk membangun green cities. Program kota hijau merupakan pelaksanaan dari UU No 6 tahun 2007 tentang Penataan Ruang.
Sementara berbicara mengenai progres pembuatan Peraturan Daerah (Perda) Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW), Hermanto menuturkan hinggi kini sudah 18 provinsi yang telah merampungkannya. Sementara untuk Perda RTRW tingkat Kabupaten dan Kota masing-masing telah mencapai 60 persen dan 70 persen.
Dalam acara Smart Society, Smart City, Smart Indonesia juga hadir antara lain Direktur Jenderal Penataan Ruang, Basoeki Hadimoeljono, Direktur Perkotaan Dadang Rukmana, Guru Besar STEI ITB Suhono Harso, Deputi Bidang Industri, Perdagangan dan Transportasi DKI Jakarta, Sutanto Soehodho dan Walikota Bogor Bima Arya. (rnd)
sumber:kementrian pekerjaan umum RI
Kementerian Pekerjaan Umum (PU) akan membangun sebuah bendung pada Kanal Banjir Timur (KBT) pada tahun depan. Bendung tersebut ditujukan untuk menjaga volume air pada KBT agar dapat digunakan untuk transportasi air.
“Tahun depan kita tambah satu weir (bendung) supaya airnya ada terus, mudah-mudahan dengan cara itu nanti kita punya taksi air,”sebut Wakil Menteri PU, Hermanto Dardak saat berbicara pada Peluncuran Smart Society, Smart City dan Smart Indonesia di Hotel Millenium Jakarta pada Selasa (3/12) malam.
Namun Dardak mengakui untuk mewujudkan transportasi air pada KBT menghadapi tantangan mengenai sampah. Setiap harinya jumpah sampah pada Sungai Cipinang mencapai 30 ton. Ini yang harus dicari penanganannya, antara lain melalui sosialisasi program Reuse, Reduce. Recycle kepada masyarakat ibukota.
KBT sendiri telah ditetapkan Pemerintah sebagai percontohan infrastruktur hijau. Infrastruktur sepanjang 23,5 Kilometer (Km) tersebut yang berfungsi untuk penanganan banjir, juga dilengkapi sarana dan prasarana ramah lingkungan berupa jalur pejalan kaki dan pesepeda, serta taman-taman.
Hermanto mengatakan, keberadaan kanal banjir yang berwawasan hijau sangat penting dalam sebuah kota karena merupakan salah satu indeks dalam tingkat kenyamanan hunian sebuah kota. Dia mencontohkan Korea Selatan yang merestorasi sungai-sungainya untuk kemudian indeks kenyamanan kotanya meningkat.
“Green kanal itu juga salah satu indeks tinggi untuk indeks livebale city, di Korea Selatan mereka restorasi sungai termasuk di Seoul untuk menarik masyarakatnya. Rumah-rumah yang menghadap kanal itu biasanya memiliki harga paling mahal,”imbuhnya.
Dalam kesempatan tersebut, Wakil Menteri PU juga mengungkapkan pihaknya kini aktif dalam mewujudkan kota-kota hijau di Indonesia. Kementerian PU telah bekerja sama dengan 110 kota untuk membangun green cities. Program kota hijau merupakan pelaksanaan dari UU No 6 tahun 2007 tentang Penataan Ruang.
Sementara berbicara mengenai progres pembuatan Peraturan Daerah (Perda) Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW), Hermanto menuturkan hinggi kini sudah 18 provinsi yang telah merampungkannya. Sementara untuk Perda RTRW tingkat Kabupaten dan Kota masing-masing telah mencapai 60 persen dan 70 persen.
Dalam acara Smart Society, Smart City, Smart Indonesia juga hadir antara lain Direktur Jenderal Penataan Ruang, Basoeki Hadimoeljono, Direktur Perkotaan Dadang Rukmana, Guru Besar STEI ITB Suhono Harso, Deputi Bidang Industri, Perdagangan dan Transportasi DKI Jakarta, Sutanto Soehodho dan Walikota Bogor Bima Arya. (rnd)
sumber:kementrian pekerjaan umum RI
Langganan:
Posting Komentar (Atom)






0 komentar:
Posting Komentar