Yogyakarta (Pinmas) —- Kanjeng Bendara Pangeran Hario Prabu Suryodilogo baru saja dinobatkan sebagai Paku Alam X. Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin yang ikut hadir dalam upacara penobatan itu menilai, sosok Adipati Di Praja Dalem Kadipaten Pakualaman ini merupakan pemimpin yang bisa mengayomi dan mampu mendengarkan aspirasi masyarakat Jogjakarta.
“Kepemimpinan beliau adalah kepemimpinan yang bisa mengayomi kita dan mampu mendengarkan aspirasi masyarakat Jogja,” kata Menag usai mengikuti rangkaian acara Jumenengan Paku Alam X atau pengukuhan sebagai raja Paku Alam ke X di Bangsal Sewatama, Pakualam, Yogyakarta, Kamis (7/1)..
Di mata Menag Lukman, rangkaian acara pengukuhan ini merupakan budaya yang luhur. Seperti halnya, saat melihat Tarian “Angron Akung” yang usianya sudah begitu lama dan ditampilkan dengan penuh hikmat, kaya dengan simbol-simbol yang tentu dalam konteks kekinian memiliki makna dan nilai-nilai luhur. “Yogyakarta, khususnya Pakualaman, mempunyai tradisi panjang dalam menjaga nilai-nilai budaya itu,” papar Menag.
Menag yang didampingi Ibu Trisna Willy, Dirjen Bimas Islam Machasin, Kakanwil Kemenag Yogyakarta Nizar, juga menyampaikan bahwa masyarakat Yogja masih mampu melestarikan nilai luhur yang sangat urgensi di tengah globalisasi sekarang ini.
Selain itu, Menag menilai sosok Pakualam X sebagai orang yang populis dan rendah hati, merakyat, serta tidak pernah menunjukkan bahwa dirinya adalah keluarga dan keturunan Pakualaman. “Sangat cairlah, sangat merakyat,” tambah Menag yang pernah belajar bersama dengan Pakualam X saat menimba ilmu di SMP 11 Jakarta.
Tampak hadir dalam acara Mantan Presiden RI Megawati Soekarno Putri bersama Mendagri Tjahyo Kumolo, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan, dan Gubernur Jateng Ganjar Pranowo.
Terlihat hadir juga Sri Sultan Hamengkubuwana X serta para raja, antara lain Gendhing Pakurmatan Karaton Ngayogyakarta: Gendhing Rajamanggal Prabu Mataram sarta Tedhak Saking, Gendhing Pakurmatan Karaton Surakarta: Gending Srikaton, Gendhig pakurmatan Kadipaten Mangkunegaran: Ktw Puspawarna sarta Udan Mas, Pakurmatan Kebo Giro, dan para nata Cirebon lan Karangasem Bali.
Sumber : www.kemenag.go.id
“Kepemimpinan beliau adalah kepemimpinan yang bisa mengayomi kita dan mampu mendengarkan aspirasi masyarakat Jogja,” kata Menag usai mengikuti rangkaian acara Jumenengan Paku Alam X atau pengukuhan sebagai raja Paku Alam ke X di Bangsal Sewatama, Pakualam, Yogyakarta, Kamis (7/1)..
Di mata Menag Lukman, rangkaian acara pengukuhan ini merupakan budaya yang luhur. Seperti halnya, saat melihat Tarian “Angron Akung” yang usianya sudah begitu lama dan ditampilkan dengan penuh hikmat, kaya dengan simbol-simbol yang tentu dalam konteks kekinian memiliki makna dan nilai-nilai luhur. “Yogyakarta, khususnya Pakualaman, mempunyai tradisi panjang dalam menjaga nilai-nilai budaya itu,” papar Menag.
Menag yang didampingi Ibu Trisna Willy, Dirjen Bimas Islam Machasin, Kakanwil Kemenag Yogyakarta Nizar, juga menyampaikan bahwa masyarakat Yogja masih mampu melestarikan nilai luhur yang sangat urgensi di tengah globalisasi sekarang ini.
Selain itu, Menag menilai sosok Pakualam X sebagai orang yang populis dan rendah hati, merakyat, serta tidak pernah menunjukkan bahwa dirinya adalah keluarga dan keturunan Pakualaman. “Sangat cairlah, sangat merakyat,” tambah Menag yang pernah belajar bersama dengan Pakualam X saat menimba ilmu di SMP 11 Jakarta.
Tampak hadir dalam acara Mantan Presiden RI Megawati Soekarno Putri bersama Mendagri Tjahyo Kumolo, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan, dan Gubernur Jateng Ganjar Pranowo.
Terlihat hadir juga Sri Sultan Hamengkubuwana X serta para raja, antara lain Gendhing Pakurmatan Karaton Ngayogyakarta: Gendhing Rajamanggal Prabu Mataram sarta Tedhak Saking, Gendhing Pakurmatan Karaton Surakarta: Gending Srikaton, Gendhig pakurmatan Kadipaten Mangkunegaran: Ktw Puspawarna sarta Udan Mas, Pakurmatan Kebo Giro, dan para nata Cirebon lan Karangasem Bali.
Sumber : www.kemenag.go.id






0 komentar:
Posting Komentar