Auckland - Perdagangan bilateral Indonesia-Selandia Baru akan didorong sekuat tenaga. Tidak main-main, volume yang yang tahun 2013 sebesar Rp 17 triliun diharapkan melonjak menjadi Rp 40 triliun dalam waktu 9 tahun dari sekarang.
Itulah salah satu "janji" yang diikrarkan oleh Menlu Retno Marsudi dan Menlu Selandia Baru, Murray McCully, dalam Komisi Bersama Tingkat Menteri ke-7 yang dilaksanakan di Auckland, 3 Maret 2015. Dalam kesempatan itu dievaluasi dan dibahas kiat-kiat memajukan kerjasama bilateral di banyak bidang.
"Saya merasa sekarang waktunya untuk mengevaluasi apa-apa yang telah kita telah sepakati untuk kemudian kita implementasikan sebaik-baiknya bagi kemakmuran kedua bangsa," ujar Menlu Retno.
Untuk itu, McCully mendorong pengusaha kedua negara bersungguh-sungguh menggali potensi ekonomi yang ada untuk bisa mencapai target yang diharapkan. Bahkan, Selandia Baru meminta agar Indonesia segera membuka Kantor Dagang di negeri kiwi tersebut.
Diantara impor Selandia Baru dari Indonesia adalah buah manggis, batu bara, electronik, kayu, kertas dan lainnya. Adapun impor Indonesia dari sana kebanyakan berupa dairy product seperti susu, daging dan mentega. Tahun lalu Indonesia defisit 376 ribu dolar.
Saat ini, Indonesia ingin mengembangkan ekspor produk utama seperti kelapa sawit, produk elektronik, karet, produk kimia dan makanan olahan. Indonesia juga merencanakan segera mengekspor buah salak.
Menteri McCully mengakui pihaknya terus mendorong Indonesia mempertimbangkan pengembangbiakan sapi asal Sekandia Baru. Kedua belah pihak sepakat menindaklanjutinya dalam kelompok kerja dalam waktu dekat.
Untuk meningkatkan perdagangan, diakui bahwa penerbangan langsung indonesia - Selandia Baru memainkan peranan penting dan karenanya harus diusahakan. Maklumlah, saat ini penerbangan langsung dari Selandia Baru ke negara-negara ASEAN hanya menuju satu negara yakni Singapura.
Menlu Retno setuju dengan Menlu McCully bahwa kerjasama geothermal dan energi terbarukan akan menjadi Prioritas dalam tahun ini dan mendatang. Hal ini utamanya dimaksudkan untuk mendukung listrik di Indonesia bagian timur.
"Saya kira pertemuan kali ini sangat produktif. Tidak hanya membicarakan soal ekonomi tetapi juga mencakup pertahanan, hubungan masyarakat hingga masalah regional dan internasional. Setelah ini tentu pekerjaan kita adalah implementasi. Tidak boeh berhenti diatas kertas," ujar Menlu Retno.






0 komentar:
Posting Komentar