Jakarta (17/10) - Menjelang berakhirnya Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) Jilid II dan pergantian pemerintahan oleh Presiden dan Wakil Presiden terpilih selanjutnya, yakni Joko Widodo dan Jusuf Kalla, perekonomian Indonesia pada tahun mendatang diperkirakan menghadapi kondisi yang kurang menguntungkan. Melalui sambutannya di acara bertajuk "Prospek Ekonomi Indonesia 2015", Menteri Koordinator Bidang Perekonomian sekaligus merangkap sebagai ketua Komite Ekonomi Nasional (KEN), Chairul Tanjung menyatakan bahwa Indonesia diprediksi akan mengalami perlambatan ekonomi. Hal tersebut merupakan konsekuensi pelaksanaan kebijakan Quantitative Easing ke arah sebaliknya yang dilakukan oleh Amerika Serikat.
Beberapa tahun yang lalu, negara adidaya dunia, Amerika Serikat memberlakukan kebijakan Quantitative Easing yang mengakibatkan aliran uang banyak masuk ke negara-negara berkembang, termasuk Indonesia. Efek lanjutannya adalah, angka permintaan terhadap komoditas dalam negeri meningkat dengan signifikan. Selain itu, harga-harga komoditas utama negeri seperti bijih coklat dan batubara juga meningkat tajam. Singkat kata, laju dan volume ekspor meningkat dan menciptakan imbal hasil yang lebih tinggi.
Sebagai respon terhadap tingginya angka inflasi dan jumlah pengangguran akibat pemberlakuan Quantitative Easing tersebut, Amerika Serikat melancarkan tapering off untuk menaikkan suku bunga dalam rangka menarik uangnya kembali. Akibatnya, terjadi aliran uang keluar dari negara-negara berkembang. Harga-harga komoditas seperti CPO, emas dan batubara dalam negeri juga ikut melemah sehingga peningkatan jumlah transaksi tidak diikuti dengan aliran uang ke dalam pendapatan negeri dalam jumlah yang besar pula. Dampak tersebut ternyata tidak hanya berimbas ke perekonomian Indonesia tetapi juga ke perekonomian Cina, Meksiko, Brasil dan negara berkembang lainnya. Keadaan tersebut menyisakan pertanyaan mengenai persiapan Indonesia untuk menghadapi situasi yang demikian, terlebih dengan masa transisi pemerintahan baru yang dibarengi dengan defisit ganda (neraca transaksi berjalan dan neraca perdagangan), potensi inflasi dan pelemahan rupiah.
Melalui pemaparannya, Chairul Tanjung meyakinkan para pebisnis, akademisi, dan petinggi lembaga keuangan yang hadir dalam seminar tersebut bahwa Indonesia mampu untuk menggenjot kembali perekonomiannya yang sempat lesu ini. Menurutnya, ekonomi tidak bergerak di ruang hampa. Ekonomi perlu suasana sosial dan politik yang kondusif untuk bisa bergerak sesuai dengang asumsi yang diharapkan. Dengan jumlah sumber daya yang melimpah dan bonus demografi, Indonesia berpeluang untuk mengembalikan situasi ekonomi yang menguntungkan. Meski demikian, Chairul Tanjung tidak menampikkan fakta bahwa hal tersebut tetap menyisakan kompleksitas dalam pemutusan kebijakan ekonomi dan dukungan dari seluruh komponen bangsa mutlak diperlukan.






0 komentar:
Posting Komentar