KONYA – Turki merupakan mitra penting Indonesia dalam perdagangan Internasional. Posisi Turki yang strategis dapat menjadi penghubung untuk produk-produk Indonesia, termasuk produk pertanian ke pasar Eropa dan Afrika.
Menteri Pertanian RI Suswono mengungkapkan hal tersebut saat memberikan kuliah umum kepada mahasiswa Fakultas Pertanian, Universitas Selcuk, Rabu (28/5) di Konya, Turki. Pada acara yang juga dihadiri civitas akademika, termasuk Rektor Universias Selcuk, Prof Dr Hakki Gokbel tersebut, Mentan memberikan kuliah umum dengan tema Memperkuat Hubungan Bilateral Indonesia-Turki Melalui Kerjsama Pertanian dan Agribisnis. Mentan Suswono menyatakan, Indonesia dan Turki dapat bersinergi memanfaatkan peluang pasar di masing-masing negara. Turki yang beriklim subtropis tentunya membutuhkan produk-produk pertanian yang hanya dapat tumbuh di iklim tropis. Demikian juga sebaliknya, Indonesia tentunya membutuhkan produk-produk pertanian yang hanya bisa dihasilkan di Negara subtropis, seperti Turki. “Masing-masing memiliki produk unggulan yang dibutuhkan dan dapat diperdagangkan antar kedua Negara,” kata Mentan Suswono. Mentan memamparkan, tahun 2013 lalu impor produk pertanian Indonesia dari Turki mencapai AS$ 88,6 juta, Jenis produk yang diimpor adalah tembakau dan gandum. Sementara ekspor produk pertanian Indonesia ke Turki meliputi minyak kelapa sawit, karet, dan produk pertanian lainnya dengan nilai AS$ 476,3 juta. Kesempatan kuliah umum tersebut dipakai Mentan Suswono untuk mengklarifikasi tuduhan miring terkait produk minyak kelapa sawit, terutama dalam kaitannya dengan kelestarian lingkungan. Sejumlah negara tujuan ekpsor di pasar Eropa melancarkan kampanye negatif terhadap produk minyak kelapa sawit. “Minyak kelapa sawit terbukti lebih unggul dari minyak nabati lainnya dalam hal ekonomi , sosial, dan lingkungan,” tegas Mentan. Bahkan, lanjut Mentan, Menteri Iklim dan Lingkungan Hidup Norwegia, Tine Sundtoft menegaskan, pelarangan produk minyak kelapa sawit adalah keliru, karena hal itu mempersulit upaya-upaya pelestarian lingkungan. Mentan menambahkan, sebagai negara yang memposisikan sektor pertanian sebagai andalan perekonomian, Indonesia sangat bekomitmen terhadap pelestarian sumber daya alam, termasuk dalam hal ini prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan yang harus diaplikasikan industri kelapa sawit dari hulu hingga hilir. Sejak tahun 1990 pemerintah Indonesia memiliki perangkat regulasi yang lengkap dan kuat untuk mengatur industri kelapa sawit. Tahun 2011 regulasi yang ada diperkuat lagi dengan keharusan memiliki ISPO (Indonesia Sustainable Palm Oil) sebagai mandatory bagi industri kelapa sawit. “Tahun 2014 ini semua industri kelapa sawit harus sudah memiliki ISPO,” jelas Mentan. Menurut Mentan, upaya-upaya yang dilakukan Indonesia terkait pembangunan industri kelapa sawit yang berkelanjutan sudah diakui dan mendapat dukungan dari Parlemen Eropa. Dalam pertemuan baru-baru ini di Brussel, Parlemen Eropa dapat menyatakan, pembangunan industri kelapa sawit Indonesia sudah menerapkan prinsip-prinsip berkelanjutan (sustainable). |
Jumat, 30 Mei 2014
Turki Dapat Menjadi Penghubung Bagi Produk Ekspor Indonesia ke Eropa dan Afrika
21.06.00
No comments
Langganan:
Posting Komentar (Atom)






0 komentar:
Posting Komentar