Minggu, 20 April 2014, Semangat Dasasila Bandung harus terus dilestarikan demi perdamaian dunia dan hubungan kerja sama antar negara Asia – Afrika di masa depan. Demikian pesan yang disampaikan Dubes Dian Triansyah Djani, Plt. Dirjen Informasi dan Diplomasi Publik Kemlu dalam kuliah umum sesi Pembukaan HUT ke-59 KAA 1955 Tahun 2014 di Ruang Utama Gedung Merdeka, Bandung (17/04/2014).
Menurutnya, semangat itu tetap relevan hingga saat ini di mana sebagian besar negara di kedua benua Asia-Afrika tengah memiliki tantangan bersama di bidang ekonomi, pembangunan, kesejahteraan, kesehatan, terorisme, hingga pendidikan.
Dalam kuliah umum yang dihadiri tak kurang dari empat ratus peserta itu, Duta Besar Dian mengawali paparannya tentang Sejarah Konferensi Asia Afrika 1955 (KAA) yang berhasil mengejutkan warga dunia.
“Perserikatan Bangsa-Bangsa kala itu seakan tak punya taring dalam mewujudkan perdamaian dunia. Saat itu, beberapa negara di kawasan Asia-Afrika dalam keadaan terkungkung belenggu kolonialisme,” kata Duta Besar Dian Triansyah Djani.
Dubes Dian Triansyah Djani pula mengajak audiens untuk bersama-sama melayangkan kenangan pada peristiwa KAA 1955.
“Kursi yang kini kita duduki, dulunya menjadi tumpuan berbagai delegasi Asia dan Afrika. Gedung tempat kita bernaung sekarang menjadi pusat berbagi harapan dan semangat yang melebur menjadi satu. Dari Peristiwa KAA 1955, kita memperoleh komitmen yang tidak main-main, yaitu Dasasila Bandung,” imbuh Duta Besar Dian Triansyah Djani.
Duta Besar Dian Triansyah Djani melanjutkan, walau 59 tahun telah berlalu, Dasasila Bandung masih menjadi panduan nilai dan semangat yang relevan dalam memecahkan berbagai masalah di dunia. Indonesia sendiri tetap berpegang pada prinsip ini dalam menjalankan hubungan diplomasi.
“Kita sendiri pun harus yakin. Dasasila Bandung dapat menjadi pedoman guna mengentaskan berbagai tantangan. Meski diakui masih banyak hal yang belum dicapai, namun kita mampu memperbaiki kekurangan-kekurangan yang ada,” tegas Duta Besar Dian Triansyah Djani.
Di penghujung kuliah umum, Duta Besar Dian Triansyah Djani mengingatkan, guna mewujudkan mimpi 59 tahun lalu itu, tentunya tidak boleh ada pribadi tunggal yang mengerjakannya. Kita semua harus bahu-membahu. Berbagai komponen masyarakat diharapkan dapat turut serta memberikan sumbangan pikiran bagi diplomasi Indonesia.
“Semoga Peringatan 60 Tahun KAA 1955 pada tahun 2015 nanti dapat menjadi momen terbaik bagi kita untuk mewujudkan impian para pemimpin kita dahulu,” pungkas Duta Besar Dian Triansyah Djani. (Sumber: Citizen Journalist Corps Sahabat Museum KAA/MKAA/Ditjen IDP)
Menurutnya, semangat itu tetap relevan hingga saat ini di mana sebagian besar negara di kedua benua Asia-Afrika tengah memiliki tantangan bersama di bidang ekonomi, pembangunan, kesejahteraan, kesehatan, terorisme, hingga pendidikan.
Dalam kuliah umum yang dihadiri tak kurang dari empat ratus peserta itu, Duta Besar Dian mengawali paparannya tentang Sejarah Konferensi Asia Afrika 1955 (KAA) yang berhasil mengejutkan warga dunia.
“Perserikatan Bangsa-Bangsa kala itu seakan tak punya taring dalam mewujudkan perdamaian dunia. Saat itu, beberapa negara di kawasan Asia-Afrika dalam keadaan terkungkung belenggu kolonialisme,” kata Duta Besar Dian Triansyah Djani.
Dubes Dian Triansyah Djani pula mengajak audiens untuk bersama-sama melayangkan kenangan pada peristiwa KAA 1955.
“Kursi yang kini kita duduki, dulunya menjadi tumpuan berbagai delegasi Asia dan Afrika. Gedung tempat kita bernaung sekarang menjadi pusat berbagi harapan dan semangat yang melebur menjadi satu. Dari Peristiwa KAA 1955, kita memperoleh komitmen yang tidak main-main, yaitu Dasasila Bandung,” imbuh Duta Besar Dian Triansyah Djani.
Duta Besar Dian Triansyah Djani melanjutkan, walau 59 tahun telah berlalu, Dasasila Bandung masih menjadi panduan nilai dan semangat yang relevan dalam memecahkan berbagai masalah di dunia. Indonesia sendiri tetap berpegang pada prinsip ini dalam menjalankan hubungan diplomasi.
“Kita sendiri pun harus yakin. Dasasila Bandung dapat menjadi pedoman guna mengentaskan berbagai tantangan. Meski diakui masih banyak hal yang belum dicapai, namun kita mampu memperbaiki kekurangan-kekurangan yang ada,” tegas Duta Besar Dian Triansyah Djani.
Di penghujung kuliah umum, Duta Besar Dian Triansyah Djani mengingatkan, guna mewujudkan mimpi 59 tahun lalu itu, tentunya tidak boleh ada pribadi tunggal yang mengerjakannya. Kita semua harus bahu-membahu. Berbagai komponen masyarakat diharapkan dapat turut serta memberikan sumbangan pikiran bagi diplomasi Indonesia.
“Semoga Peringatan 60 Tahun KAA 1955 pada tahun 2015 nanti dapat menjadi momen terbaik bagi kita untuk mewujudkan impian para pemimpin kita dahulu,” pungkas Duta Besar Dian Triansyah Djani. (Sumber: Citizen Journalist Corps Sahabat Museum KAA/MKAA/Ditjen IDP)






0 komentar:
Posting Komentar