Wakil Menteri Pekerjaan Umum (PU) Hermanto Dardak bersama sejumlah Menteri terkait mendampingi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam kunjungan ke Sumatera Utara. Kunjungan tersebut dilaksanakan dalam rangka meninjau dampak erupsi Gunung Sinabung di Kabupaten Karo (23/1).
Dalam kunjungannya tersebut, setelah melakukan peninjauan di lokasi pengungsian di Kabupaten Karo, malamnya dilakukan rapat koordinasi dengan Kementerian dan Badan terkait untuk mengatasi dampak erupsi Gunung SInabung.
“Nanti malam saya masih akan mengundang Gubernur, Bupati dan pejabat terkait untuk bersama-sama kami yang dari pusat melaksanakan pembahasan lanjutan,” tutur Presiden SBY.
Presiden mengatakan, atas dasar pengalaman pemerintah pusat mengelola dan mengatasi akibat bencana di tanah air, sudah saatnya ada satu kebijakan dan solusi yang diambil untuk mengatasi dampak erupsi Gunung SInabung ini.
“Di tingkat pusat, pemerintahan sudah tiga kali melaksanakan sidang kabinet untuk mencari solusi dan menetapkan kebijakan yang tepat, yang berlaku untuk Sinabung, utamanya tugas dan tanggung jawab pemerintah pusat, provinsi dan kabupaten,” tambah Presiden.
Sementara itu, ditemui di sela-sela kunjungan tersebut, Hermanto Dardak mengungkapkan, di bidang ke-PU-an, salah satu yang akan dibahas pada rapat malam ini adalah mengenai relokasi hunian.
“Salah satunya huntara (hunian sementara) dan huntap (hunian tetap) yang akan digunakan untuk relokasi sekitar 1000 kk (kepala keluarga) yang masih akan dibahas malam ,” singkat Hermanto.
Presiden menyebutkan, masalah prioritas yang harus dilakukan oleh pemerintah kabupaten yang dibantu oleh pemerintah provinsi dan pusat adalah, keselamatan jiwa, dengan cara mencegah jangan ada korban jiwa untuk warga yang tinggal di gunung sinabung; pelayanan untuk warga yang ada di penampungan, terutama adalah makan, minum, air bersih, dan peralatan kesehatan.
Selanjutnya bagaimana solusi bagi warga yang berkebun, para petani, yang kena musibah mereka merugi dan harus pemerintah bantu, relokasi dalam radius 3 km, dimanapun itu berbahaya dan tidak aman, maka harus di relokasi ke tempat yang aman.
Selanjutnya, Direktur Jenderal Cipta Karya Kementerian PU Imam S. Ernawi mengatakan bahwa saat ini telah terpasang dan dimanfaatkan oleh pengungsi yang tersebar di 41 pos pengungsi di wilayah Kaban Jahe dan Berastagi berupa 81 unit hidran umum (HU), 46 unit WC Knockdown, 23 unit Tenda Hunian Darurat (THD) dan 520 buah jerigen.
Selain itu untuk memenuhi kebutuhan air di 41 pos pengungsian tersebut, telah beroperasi 16 unit Mobil Tangki Air (MTA) selain juga 1 unit dump truk dan 1 unit truck tinja. Masing masing peralatan tersebut 8 unit MTA, 1 Unit Truck Tinja dan 1 unit dump truck berasal dari Depo Ditjen Cipta Karya Kementerian PU, sedangkan 2 unit MTA dari PDAM Tirta Nadi Medan dan 2 unit MTA sisanya dari PDAM Berastagi.
“Selain itu, telah terbangun dan beroperasi terminal air (Pipa Curah di Kantor Dinas PU Kabupaten Karo, untuk memudahkan jarak tempuh pengisian air bersih ke Mobil Tangki Air,” tambah Imam.
Imam menambahkan, telah dimobilisasi penambahan barang/peralatan ke Dinas PU Kabupaten Karo, berupa 30 unit HU, 30 Unit WC Knock Down, 30 unit THD 2 unit toilet mobile yang dimobilisasi dari Gudang Cipta Karya PU Pusat, Bekasi dan 2 unit mobil tangki air.
Sedangkan, di Gudang Tanjung Morawa, Medan saat ini terdapat persediaan barang/peralatan berupa 2 unit MTA, 90 unit HU, 50 unit WC Knock Down, 1 unit dump truck dan 50 unit THD.
Sedangkan di bidang jalan, Kepala Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional I Zamharir Basuni mengatakan bahwa, kerusakan jalan yang terdampak langsung bencana tersebut tidak ada namun terdapat jalan longsor di ruas jalan Medan-Berastagi, yaitu di STA 65.
“Jalan nasional kita yang menuju kesana itu tidak mengalami hambatan, hanya beberapa titik saja yaitu di Berastagi sta 65 dari Medan, sekarang sudah mulai ditangani dengan penanganan darurat menggunakan pohon kelapa agar tidak runtuh,” tutur Basuni.
Namun, tambah Basuni saat ini sudah dilakukan penanaganan untuk desain permanen yang menggunakan penanganan penahanan tebing, yang kemiringan tanahnya menggunakan geogrit, dananya sendiri akan menggunakan dana bencana alam Ditjen Bina Marga.(nrm)
Sumber : Kemen PUPusat Komunikasi Publik 230114






0 komentar:
Posting Komentar