Pemerintah dan akademisi Swedia tertarik jajaki kerjasama dengan Indonesia dalam bidang inovasi iptek. Duta Besar Swedia untuk Indonesia, Ewa Polano dan Rektor University of Lund mengutarakan hal tersebut saat bertemu Menteri Riset dan Teknologi, Gusti Muhammad Hatta pada kunjungan ke kantor Kementerian Ristek, Rabu, 15 Januari 2014.
Pada kesempatan tersebut, Ewa Polano mengundang Menristek ke Swedia untuk membahas peningkatan kerjasama iptek kedua negara. Hal tersebut disambut baik oleh Menristek. Pada pertemuan tersebut, Menristek menyampaikan apresiasi yang tinggi kepada Duta Besar Swedia untuk Indonesia, Y.M. Ewa Polano yang telah memelihara dan meningkatkan kualitas kerjasama bilateral Indonesia-Swedia yang secara resmi diawali dengan penandatanganan Letter of Intent (LoI) di Swedia pada Mei 2013. Menristek dalam kesempatan tersebut juga mengingatkan kembali pertemuan dengan Perdana Menteri Swedia, Fredrik Reinfeldt, dalam kunjungan kenegaraannya pada tahun 2012 pada acara Round Table Power Talk: Indonesia – Sweden Unlocking the Trade and Innovation Potential’, di hotel ShangRi-La. Menristek lebih lanjut memuji kemajuan inovasi Swedia yang dibuktikan dengan banyaknya jumlah industri yang dihasilkan oleh kegiatan penelitian, diantaranya adalah (i) ABB – The world’s biggest supplier of power grids; (ii) IKEA – The world’s biggest home furnishings retailer; (iii) Sandvik – The world’s largest maker of metal-cutting tools, (iv) Ericsson – The world’s leading cell phone network provider; (v) SSAB – The world’s largest supplier of high-tensile steel; (vi) AstraZeneca – One of the world’s leading pharmaceutical companies, as well as (vii) AB Volvo – The world’s second biggest truck make; are well known all over the world. Seperti diketahui, Swedia adalah negara dengan peringkat Global Innovation Index nomor 2 di dunia pada tahun 2013. Hal ini menjadikan negara tersebut mampu menghasilkan produk-produk inovasi yang berdaya saing tinggi di pasaran. Staf Ahli Menristek Bidang Pangan dan Pertanian, Benyamin Lakitan mengatakan, konsep triple helix yang memfokuskan sinergi antara akademisi yang menghasilkan berbagai inovasi aplikatif, bisnis yang melakukan kapitalisasi perekonomian yang menguntungkan dan bermanfaat bagi masyarakat, dan pemerintah yang menjamin dan menjaga stabilitas dengan regulasi yang kondusif, sudah berjalan sangat baik di Swedia. Science park yang dibangun disana berada ditengah-tengah antara universitas dan industri. “Disini kita punya Puspiptek, tapi lokasinya sangat berbeda dengan science park di Swedia. Kita juga punya universitas yang lokasinya dekat tapi itu belum cukup kuat untuk proses intermediasi,” ujar Benyamin. Untuk itu ia menambahkan, Indonesia harus bisa meningkatkan sistem inovasi di perguruan tinggi. Hal senada diakui Sesmenristek, Hari Purwanto. Ia mengatakan kondisi saat ini di Indonesia, pihak industri belum banyak yang menggunakan hasil-hasil riset universitas. Begitupun dengan sumber daya manusianya, masih banyak yang belum siap masuk ke dunia industri. Untuk itu, menurut Staf Ahli Bidang Energi dan Material Maju, Idwan Suhardi, pertemuan dan kerjasama antar kedua negara diharapkan dapat membantu Indonesia dalam mengadopsi sistem inovasi yang diterapkan di Swedia. Tentunya dengan penyesuaian dan melihat pada negara Indonesia yang luas wilayahnya besar dan beragam. Tidak dipungkiri oleh Idwan, jika bicara masalah teknologi maka kita juga harus memperhatikan sumber daya manusianya. Ini merupakan kesempatan untuk kolaborasi dengan mengundang SDM Swedia bukan cuma akademisinya tapi juga pihak industri. “Di masing-masing wilayah, Kemenristek telah mengembangkan pusat unggulan, yang sesuai dengan potensi sumber daya alam dengan meningkatkan iptek didalamnya. Untuk itu, bagaimana memberdayakan wilayah dengan kapasitas dan SDA masing-masing,” jelas Idwan. Universitas Lund yang terkenal dengan kemampuan inovasinya merupakan salah satu perguruan tinggi prestisius di dunia. Kunjungan Rektor Universitas Lund ke Kementerian Ristek diantaranya bertujuan untuk mendukung kerjasama antara Indonesia dan Swedia di bidang Iptek yang selama ini sudah terjalin. Rektor Universitas Lund, Per Eriksson menjelaskan saat ini perguruan tingginya telah mencetak 1500 pekerja dalam kurun waktu 4 tahun. Universitasnya telah mengimplementasikan konsep ‘triple helix’ sendiri yang terdiri darieducation, research dan innovation. Ketiga bagian ini saling mendukung satu sama lain sehingga dapat menciptakan link ke industri. Maka dari itu, Indonesia dapat menjalin kerjasama dalam hal SDM iptek melalui Universitas Lund. Selanjutnya, Dubes Swedia, Ewa Polano mengatakan kedua negara secepatnya perlu mendesain road map untuk menjajaki kerjasama seperti apa saja yang dibutuhkan. Dalam hal ini Indonesia dapat menjelaskan apa saja yang dibutuhkan dan bagaimana Swedia dapat membantu, termasuk soal sumber daya manusia. Menurut pakar inovasi Swedia, Sven Thore Holm, desain road map tersebut tentunya tidak lepas dari ide bagaimana membuat payung fondasi kerjasama yang kokoh antara pemerintah Indonesia dengan Swedia. Didalam payung ini terdiri dari beberapa bagian seperti program pengembangan kapasitas, sistem inkubator, science park, venture cap, pertukaran SDM Iptek dalam program enterpreneurship, bagaimana meningkatkan mutu dan aplikasi hasil-hasil riset universitas, bagaimana mendorong ketiga pihak dalam konsep triple helix untuk bekerjasama, bagaimana menciptakan sistem keuangan yang mendukung sistem inovasi, dan lain-lain. Setelah berdialog dengan Menristek, rombongan pemerintah dan Universitas Lund Swedia kemudian melakukan diskusi hangat dengan para pejabat di lingkungan Kemenristek, para undangan dari LPNK – Ristek, dan undangan dari berbagai universitas di Indonesia, khususnya yang telah mempunyai program technopreneruship, seperti Universitas Ciputra, Universitas Multimedia Nusantara, Universitas Tanri Abeng. Dalam diskusi tersebut, Per Eriksson mengundang para mahasiswa dari masing-masing universitas dan peneliti LPNK untuk dapat melanjutkan studi, berkunjung atau menjalin kerjasama riset dengan Universitas Lund. (ad5-dep3/ humasristek)
Sumber : Kemen Ristek
| |
Senin, 20 Januari 2014
Indonesia- Swedia Tingkatkan Kerjasama SDM Iptek
23.41.00
No comments
Langganan:
Posting Komentar (Atom)






0 komentar:
Posting Komentar