Manado – Pertemuan Tingkat
Menteri ke-17 Brunei Darussalam – Indonesia – Malaysia - Philippines East ASEAN Growth Area
(BIMP-EAGA) dan pertemuan terkait telah diselenggarakan pada tanggal 27-30 Nopember 2013 di Manado,
Sulawesi Utara. Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional Republik Indonesia, Prof. Dr. Armida
Salsiah Alisjahbana memimpin pertemuan dimaksud.
BIMP-EAGA diluncurkan pada tahun 1994 di Davao
City, Filipina, sebagai inisiatif kerja sama oleh empat negara untuk mempersempit kesenjangan
pembangunan di seluruh dan di dalam kawasan BIMP-EAGA itu sendiri maupun dengan negara-negara ASEAN
lainnya. BIMP-EAGA meliputi seluruh Kesultanan Brunei, dan daerah sub-regional dari Indonesia,
Malaysia, dan Filipina.
BIMP-EAGA adalah inisiatif berbasis pasar, dan beroperasi melalui struktur organisasi yang
terdesentralisasi yang melibatkan pemerintah dan sector swasta. Tujuannya adalah untuk mempercepat
pembangunan ekonomi di area fokus yang berada dalam jarak strategis satu sama lain, meskipun secara
geografis jauh dari ibu kota.
Berdasarkan hasil KTT BIMP-EAGA ke-9 yang diselenggarakan di Bandar
Seri Begawan, Brunei Darussalam, 25 April 2013, para Kepala Negara menugaskan para menterinya untuk
meninjau kemajuan kerjasama dan memberikan arahan lebih lanjut dalam mengejar visi bersama membangun
BIMP-EAGA sebagai daerah lumbung pangan dan tujuan ekowisata melalui peningkatan konektivitas untuk
perdagangan dan investasi, dengan memastikan pengelolaan lingkungan hidup yang berkelanjutan. Para
Kepala Negara juga menegaskan pentingnya kerjasama ekonomi sub-regional BIMP-EAGA sebagai strategi
dalam mendukung terwujudnya Komunitas ASEAN 2015.
Para menteri tersebut bersama-sama
mengkoordinasikan dan melaksanakan proyek-proyek prioritas BIMP-EAGA dalam Implementation Blueprint
(IB) 2012-2016 yang disahkan pada KTT BIMP-EAGA ke-8 tahun 2012.
Prof. Dr. Armida Salsiah Alisjahbana menyoroti
pentingnya memiliki kerjasama strategis BIMP-EAGA. Dari waktu ke waktu BIMP-EAGA telah jelas
menunjukkan pertumbuhan yang signifikan dalam perdagangan dan investasi serta pariwisata. Untuk
periode 2009-201, nilai total perdagangan di sub-regional EAGA tumbuh signifikan sebesar 72% dari 80
miliar USD pada tahun 2009 menjadi 138milliar USD pada tahun 2011. Total perdagangan EAGA selama
periode ini menyumbang sekitar seperlima atau 20% dari perdagangan gabungan dari negara-negara
anggota dengan Negara tetangga. Malaysia dan Indonesia bersama-sama memberikan kontribusi 8% dari
total perdagangan pada tahun 2011.
Para menteri menyetujui Kerangka Acuan Kerja bagi setiap Cluster
sebagai sarana untuk memperkuat mekanisme kelembagaan yang akan menjamin pelaksanaan yang efektif
dan sukses dari strategi, kebijakan dan proyek-proyek dari Implementation Blueprint 2012-2016. Para
menteri menegaskan kembali kebutuhan untuk pelaksanaan yang efektif dan tepat waktu dari
Implementation Blue print dan dengan demikian menugaskan pejabat senior, kelompok dan kelompok kerja
untuk mempercepat bekerja pada proyek-proyek prioritas dan menerapkannya sesuai dengan timeline,
termasuk integrasi mereka pada kebijakan dan program nasional.
Para menteri menyoroti peran sector swasta
yang dianggap sebagai mesin utama pertumbuhan ekonomi, sementara pemerintah menciptakan kebijakan
sebagai katalis untuk menarik keterlibatan masyarakat dalam kegiatan bisnis BIMP-EAGA. Para menteri
sepakat untuk mengeksplorasi pendekatan kreatif untuk meningkatkan partisipasi sector swasta melalui
serangkaian hosting forum yang menampung dan menyampaikan aspirasi dari sector bisnis untuk memenuhi
kegiatan BIMP-EAGA.
Sumber: Pusat Kerjasama Luar Negeri
|
Kamis, 12 Desember 2013
Pertemuan Tingkat Menteri ke-17 BIMP-EAGA
07.24.00
No comments
Langganan:
Posting Komentar (Atom)






0 komentar:
Posting Komentar