“Program Pengembangan Kota Hijau (P2KH) dalam platform penataan ruang merupakan pintu masuk untuk perwujudan Smart City di Indonesia,” demikian ditegaskan Wakil Menteri Pekerjaan Umum Hermanto Dardak dalam Grand Launching Smarter Indonesia yang diselenggarakan secara kolaboratif antara Lembaga Pengembangan Inovasi dan Kewirausahaan (LPIK) ITB, Smart Transformation Group (STG), Harian Kompas, dan Kementerian Pekerjaan Umum di Jakarta (3/12).
Pada kesempatan tersebut Dardak menambahkan, berkaca pada kondisi saat ini dimana permasalahan perkotaan sebagai konsekuensi dari pertambahan penduduk perkotaan yang saat ini telah mencapai lebih dari 52%, setara 6 kali lipat dari jumlah penduduk perkotaan pada era 1970-an, sudah demikian mengkhawatirkan. Launching ini diharapkan dapat menjadi momentum bagi para pemangku kepentingan perkotaan di Indonesia untuk dapat secara serempak membulatkan tekad membangun kota-kota secara lebih cerdas, efisien, produktif dan berkelanjutan. Ia menjelaskan bahwa kita bisa memulai upaya perwujudan untuk kasus-kasus yang berada di hadapan kita sekarang, sepert Pembangunan Kawasan Jembatan Selat Sunda dan Kawasan Kanal Banjir Timur.
Prof. Suhono Harso Supangkat, Ketua LPIK-ITB, sekaligus salah satu penggagas lahirnya STG, menekankan bahwa sebagai awal dari sebuah gerakan transformasi kota yang cerdas dan berkelanjutan tersebut, maka konsep smart city antara lain dibangun berdasarkan prinsip Arsitektur Layanan Smart City yang meliputi Smart City Services, Smart City Infrastructure, dan Smart City Governance.
Dirjen Penataan Ruang M. Basuki Hadimuljono menegaskan bahwa konsep pengembangan perkotaan telah banyak ragamnya dan dengan pendekatan yang berbeda-beda, namun bukan untuk dipertentangkan, melainkan untuk disinergikan karena saling bersifat melengkapi (complementary). “Just do it”, tegas Basuki menutup paparannya, yang ia maksudkan agar berbagai konsep yang lahir harus implementatif bukan hanya wacana saja. Salah satu yang kini tengah dipersiapkan pelaksanaannya adalah National Capital Integrated Coastal Development (NCICD) untuk mengatasi krisis banjir, air baku dan hunian di Jakarta.
Pada kesempatan tersebut Walikota Bogor Bima Arya memberikan ilustrasi degradasi kualitas ruang perkotaan di Kota Bogor, padahal sebelumnya sangat asri, nyaman dan layak huni. Banjir, kemacetan dan longsor adalah bencana yang kerap terjadi, belum lagi masalah PKL dan ancaman terhadap punahnya beberapa spesies di Kebun Raya Bogor. “Kerugian ekonomi akibat kemacetan di Bogor mencapai Rp. 713 juta setiap harinya”. Perlu keberanian dan teknologi untuk membantu Bogor keluar dari krisis yang pelik saat ini, cetus Bima Arya, untuk mengembalikan Kota Bogor sebagai Kota Taman.
Sejalan dengan hal tersebut, sebagai langkah konkrit untuk mewujudkan Smart City di Indonesia, Kementerian PU sejak tahun 2011 telah merintis P2KH yang kini diikuti oleh 112 kota/kabupaten di seluruh Indonesia. Program kolaboratif ini apabila diperkaya dengan The Triple-helix Model of Innovation yang melibatkan secara sinergis Pemerintah, Universitas, Industri dan Lembaga Riset akan memberikan dampak sosial yang luas.(taru)
sumber : Kementrian pekerjaan Umum
Rabu, 04 Desember 2013
Mewujudkan Kota Cerdas melalui Kota Hijau di Indonesia
19.31.00
No comments
Kamis 05 Desember 2013
“Program Pengembangan Kota Hijau (P2KH) dalam platform penataan ruang merupakan pintu masuk untuk perwujudan Smart City di Indonesia,” demikian ditegaskan Wakil Menteri Pekerjaan Umum Hermanto Dardak dalam Grand Launching Smarter Indonesia yang diselenggarakan secara kolaboratif antara Lembaga Pengembangan Inovasi dan Kewirausahaan (LPIK) ITB, Smart Transformation Group (STG), Harian Kompas, dan Kementerian Pekerjaan Umum di Jakarta (3/12).
Pada kesempatan tersebut Dardak menambahkan, berkaca pada kondisi saat ini dimana permasalahan perkotaan sebagai konsekuensi dari pertambahan penduduk perkotaan yang saat ini telah mencapai lebih dari 52%, setara 6 kali lipat dari jumlah penduduk perkotaan pada era 1970-an, sudah demikian mengkhawatirkan. Launching ini diharapkan dapat menjadi momentum bagi para pemangku kepentingan perkotaan di Indonesia untuk dapat secara serempak membulatkan tekad membangun kota-kota secara lebih cerdas, efisien, produktif dan berkelanjutan. Ia menjelaskan bahwa kita bisa memulai upaya perwujudan untuk kasus-kasus yang berada di hadapan kita sekarang, sepert Pembangunan Kawasan Jembatan Selat Sunda dan Kawasan Kanal Banjir Timur.
Prof. Suhono Harso Supangkat, Ketua LPIK-ITB, sekaligus salah satu penggagas lahirnya STG, menekankan bahwa sebagai awal dari sebuah gerakan transformasi kota yang cerdas dan berkelanjutan tersebut, maka konsep smart city antara lain dibangun berdasarkan prinsip Arsitektur Layanan Smart City yang meliputi Smart City Services, Smart City Infrastructure, dan Smart City Governance.
Dirjen Penataan Ruang M. Basuki Hadimuljono menegaskan bahwa konsep pengembangan perkotaan telah banyak ragamnya dan dengan pendekatan yang berbeda-beda, namun bukan untuk dipertentangkan, melainkan untuk disinergikan karena saling bersifat melengkapi (complementary). “Just do it”, tegas Basuki menutup paparannya, yang ia maksudkan agar berbagai konsep yang lahir harus implementatif bukan hanya wacana saja. Salah satu yang kini tengah dipersiapkan pelaksanaannya adalah National Capital Integrated Coastal Development (NCICD) untuk mengatasi krisis banjir, air baku dan hunian di Jakarta.
Pada kesempatan tersebut Walikota Bogor Bima Arya memberikan ilustrasi degradasi kualitas ruang perkotaan di Kota Bogor, padahal sebelumnya sangat asri, nyaman dan layak huni. Banjir, kemacetan dan longsor adalah bencana yang kerap terjadi, belum lagi masalah PKL dan ancaman terhadap punahnya beberapa spesies di Kebun Raya Bogor. “Kerugian ekonomi akibat kemacetan di Bogor mencapai Rp. 713 juta setiap harinya”. Perlu keberanian dan teknologi untuk membantu Bogor keluar dari krisis yang pelik saat ini, cetus Bima Arya, untuk mengembalikan Kota Bogor sebagai Kota Taman.
Sejalan dengan hal tersebut, sebagai langkah konkrit untuk mewujudkan Smart City di Indonesia, Kementerian PU sejak tahun 2011 telah merintis P2KH yang kini diikuti oleh 112 kota/kabupaten di seluruh Indonesia. Program kolaboratif ini apabila diperkaya dengan The Triple-helix Model of Innovation yang melibatkan secara sinergis Pemerintah, Universitas, Industri dan Lembaga Riset akan memberikan dampak sosial yang luas.(taru)
sumber : Kementrian pekerjaan Umum
“Program Pengembangan Kota Hijau (P2KH) dalam platform penataan ruang merupakan pintu masuk untuk perwujudan Smart City di Indonesia,” demikian ditegaskan Wakil Menteri Pekerjaan Umum Hermanto Dardak dalam Grand Launching Smarter Indonesia yang diselenggarakan secara kolaboratif antara Lembaga Pengembangan Inovasi dan Kewirausahaan (LPIK) ITB, Smart Transformation Group (STG), Harian Kompas, dan Kementerian Pekerjaan Umum di Jakarta (3/12).
Pada kesempatan tersebut Dardak menambahkan, berkaca pada kondisi saat ini dimana permasalahan perkotaan sebagai konsekuensi dari pertambahan penduduk perkotaan yang saat ini telah mencapai lebih dari 52%, setara 6 kali lipat dari jumlah penduduk perkotaan pada era 1970-an, sudah demikian mengkhawatirkan. Launching ini diharapkan dapat menjadi momentum bagi para pemangku kepentingan perkotaan di Indonesia untuk dapat secara serempak membulatkan tekad membangun kota-kota secara lebih cerdas, efisien, produktif dan berkelanjutan. Ia menjelaskan bahwa kita bisa memulai upaya perwujudan untuk kasus-kasus yang berada di hadapan kita sekarang, sepert Pembangunan Kawasan Jembatan Selat Sunda dan Kawasan Kanal Banjir Timur.
Prof. Suhono Harso Supangkat, Ketua LPIK-ITB, sekaligus salah satu penggagas lahirnya STG, menekankan bahwa sebagai awal dari sebuah gerakan transformasi kota yang cerdas dan berkelanjutan tersebut, maka konsep smart city antara lain dibangun berdasarkan prinsip Arsitektur Layanan Smart City yang meliputi Smart City Services, Smart City Infrastructure, dan Smart City Governance.
Dirjen Penataan Ruang M. Basuki Hadimuljono menegaskan bahwa konsep pengembangan perkotaan telah banyak ragamnya dan dengan pendekatan yang berbeda-beda, namun bukan untuk dipertentangkan, melainkan untuk disinergikan karena saling bersifat melengkapi (complementary). “Just do it”, tegas Basuki menutup paparannya, yang ia maksudkan agar berbagai konsep yang lahir harus implementatif bukan hanya wacana saja. Salah satu yang kini tengah dipersiapkan pelaksanaannya adalah National Capital Integrated Coastal Development (NCICD) untuk mengatasi krisis banjir, air baku dan hunian di Jakarta.
Pada kesempatan tersebut Walikota Bogor Bima Arya memberikan ilustrasi degradasi kualitas ruang perkotaan di Kota Bogor, padahal sebelumnya sangat asri, nyaman dan layak huni. Banjir, kemacetan dan longsor adalah bencana yang kerap terjadi, belum lagi masalah PKL dan ancaman terhadap punahnya beberapa spesies di Kebun Raya Bogor. “Kerugian ekonomi akibat kemacetan di Bogor mencapai Rp. 713 juta setiap harinya”. Perlu keberanian dan teknologi untuk membantu Bogor keluar dari krisis yang pelik saat ini, cetus Bima Arya, untuk mengembalikan Kota Bogor sebagai Kota Taman.
Sejalan dengan hal tersebut, sebagai langkah konkrit untuk mewujudkan Smart City di Indonesia, Kementerian PU sejak tahun 2011 telah merintis P2KH yang kini diikuti oleh 112 kota/kabupaten di seluruh Indonesia. Program kolaboratif ini apabila diperkaya dengan The Triple-helix Model of Innovation yang melibatkan secara sinergis Pemerintah, Universitas, Industri dan Lembaga Riset akan memberikan dampak sosial yang luas.(taru)
sumber : Kementrian pekerjaan Umum
Langganan:
Posting Komentar (Atom)






0 komentar:
Posting Komentar